The Ws and Hs

We shall not cease from exploration and the end of all our exploring will be to arrive where we started and know the place for the first time.

Archive for May, 2007

Seminggu Bertanya (Senin)

Posted by weha on 20th May 2007

Krieeet…. Srak… Duk…. “ADUH!”

 

Keheningan fajar dipecah oleh
suara benturan. Koor jangkrik yang mengiringi tidurnya seolah terhenti. Dan
perlahan-lahan, kedua lensa itu berkontraksi, mencari-cari cahaya di tengah
kegelapan.

 

(Jam berapa ini?), pikirnya. Hari
masih gelap, tapi ia menduga kalau pagi pasti hampir tiba karena sudah ada
suara-suara orang. Apalagi ini hari Senin. Tangannya menggapai-gapai dalam
kegelapan. Seingatnya, di atas meja batu ada lilin dan korek api. Tapi baru
jari lemasnya menyentuh kotak korek, suara itu datang lagi.

 

“OUCH!!”

“Sssshhh….!!”

 

Serambi dan bilik seakan-akan
memahami otaknya, dan ikut takut, bahkan untuk berdetak. Dengan perlahan-lahan
tubuhnya ia paksa bangun dan mengintip dari balik rangkaian bunga-bunga.
Sekejap sudut matanya menangkap punggung menyelinap keluar pintu samping. Dan
terdengar suara seperti metal yang berbenturan.

 

(Pencuri…. Aku harus kabur…),
pikirnya. Ia segera, mengambil gitarnya dan berjinjit keluar pintu utama. Fajar
sudah dekat. Sang raja cahaya telah mulai menginvasi daratan biru nan luas
untuk kesekian kalinya dari Timur. Dengan sigap pagar dipanjatnya kembali dan
ia berjalan menuju jalan raya.

 

Sudah hari Senin. Hari di mana
semua orang sibuk. Berlomba-lomba untuk mencari sesuap nasi seakan-akan tidak
ada hari esok. Hari di mana langit tampak paling cerah, ikut menambah
penderitaan beban punggung dengan panas yang menyengat. Hari di mana…..

 

“Setoran!!!!!! Mampuslah gua….
Mana duit gua??” Dirogohnya sakunya dan yang tergenggam hanyalah empat genggam uang
seribuan. Tak cukup untuk menutupi jumlah setoran yang harus dibayar hari ini.
Bahkan, setengahnya saja tidak ada. Atau seperempat? Atau seperdelapan?
Angka-angka pecahan itu tak berarti baginya. Yang jelas, cahaya sang surya di
matanya telah menyadarkannya satu hal yang pasti : Ia harus kabur…..lagi……

 

Dan ia kabur. Lari. Tanpa henti.
Tanpa menoleh. Baru minggu lalu ia dipukuli karena tak bisa bayar setoran, dan
ancaman dibunuh 3 hari lalu telah menambahkan sayap ke kakinya. 3

kota

telah dijelajahinya.
Menumpang truk buah-buahan, berjalan tanpa arah, tidur di kolong jembatan,
dibangunkan paksa, dimintai uang, dan diancam kalau tak mau kerja.

 

Mengamen, mencopet, menjambret,
pernah ia lakukan untuk memenuhi semua itu. Tapi apa daya tangan lugu ini tak mampu
menipu suara hati. Dan pada akhirnya ia harus kabur lagi.

 

Bulan telah tinggi ketika ia
berhenti berlari. Ia tak kenal bagian

kota

ini. Pastilah ia telah keluar dari daerah para penjahat sialan itu. Langkahnya
melambat sampai akhirnya ia berhenti di pinggir kali. Memandang sampah-sampah
yang hanyut. (Apakah aku sampah?)

 

Tak jauh dari

sana

ada sebuah warteg. Terbangun dari kayu
dicat biru langit. Tulisan ‘WARTEG BU INDAH, SEDIA NASI GORENG, MI

GORENG

,

MI

REBUS……’ membuatnya menyadari teriakan perutnya. (Udah dari kemaren gua belum
makan. Empat ribu cukup beli apa ya….?)

 

“Malem, dik. Mau pesen apa?”

“…… Uhm…. Empat ribu cukup beli
apa ya, Bu?”

“Empat ribu? Ibu masih punya
gorengan sedikit. Satunya

lima

ratus. Tapi udah dingin kali”

“Enggak apa-apa, Bu. Saya ambil.
Makasih, Bu.”

 

Ia mengambil dua. Dipikirnya
mungkin uangnya bisa diemat untuk empat kali makan. Sementara ia duduk, ibu
penjaga warung memerhatikannya dari sudut matanya sementara mengelap gelas.

 

“Airnya, dik?”

“Eh?”

“Minum ajah. Kamu haus

kan

?”

“Oh iya. Makasih, Bu.”

“……”

“Kamu habis jalan jauh? Kamu dari
mana?”

“Ini masih di

Jakarta

, Bu?”

“Waduh. Udah jauh tuh, dik. Ini
mah udah mau deket Tangerang kali.”

(Aku aman…?)

“Sendirian dari

Jakarta

, dik?”

“I… iya, Bu.”

“Oooo gitu. Habis ini adik mo jalan
lagi? Mau ke mana?”

“I…. itu…. masih belum tau, Bu.”

 

Ibu itu manggut-manggut, lalu
membalikkan badan. Menyibukan diri kembali dengan hal-hal yang tidak terlalu
dipedulikan olehnya. Ia lelah. Ia ingin berhenti berlari. Tak mungkinkah ia
dapat hidup bebas? Dan sambil termenung, tampaklah sebuah sangkar digantung
dengan dua ekor burung kecil di dalamnya.

 

Burung pipit. Hijau muda dengan
biru di ujung sayapnya, satunya lagi kuning cerah. Sangat cantik. Seperti
gambar yang pernah ia lihat di dinding sekolah-sekolah dasar. Dan burung-burung
itu bersiul riang. Dan sekejap ia ingat kembali.

 

“Bu, ada gak burung yang gak
punya sayap?”

“Eh? Adik bilang apa?”

“Burung.

Ada

gak yang gak punya sayap?”

“Walah… Ibu ya mana tau. Selama
ini Ibu piara burung selalu ada sayapnya. Kalo gak ada ya namanya bukan burung
dong.” Ibu itu tertawa.

“Terus ada burung yang gak bisa
terbang gak?”

“Aduh, dik. Ibu mah dulu gak
sekolah. Mana tau. Mungkin aja di luar negeri ada. Tapi toh Ibu juga gak tau.”

“Kira-kira siapa yang tahu ya, Bu?”

“Mungkin penjualnya kali. Lain
kali Ibu tanya deh kalo beli burung lagi.”

“Mungkin aku tanya saja ke dia
ya, Bu? Hehehe.” Dan ia berdiri di atas kursi, dan berkata kepada kedua burung,
“Hei. Temen lu ada yang gak punya sayap gak?”

 

Cit… cit… cit… crit cuit cuit
cuit…..

 

Dan mereka berdua tertawa senang
mendengar alunan nyanyian si kecil. Tak disangka, makhluk sekecil ini dapat
menghasilkan suara begitu indah. Betapa bahagianya. Menyanyi setiap hari, tanpa
tekanan, tanpa beban, tanpa tanggung jawab.

 

<Yakin…?>

(Hah?)

<Yakin…?>

(Apa maksudnya?)

 

Tak ada jawaban. Yang terdengar
saat itu hanyalah sang pembawa acara di radio kecil yang baru saja dinyalakan
si ibu.

 

“Selamat malam. Kita bertemu
kembali dalam acara request lagu.
Bagaimana kabar anda hari ini? Banyak ulangan di sekolah? Tugas kuliah
menumpuk? Harus lembur di kantor? Tak masalah. Kami akan membantu anda
melepaskan beban anda. Biarkan diri anda bebas agar dapat menyelesaikan semua
tugas anda dengan hati ringan. Dan sajak untuk malam ini dikirim oleh xxxxx.
Mari kita dengar.

 

“Marilah ikut aku ke

padang

dan lihatlah

sejauh memandang

Siapakah yang dapat menjawab

pertanyaan alam ini?

Ada

awan di langit

Siapakah yang paling bebas

dari duka dan sakit?

Jangan tanyakan

pada rumput yang bergoyang

Tanyakan pada kuda

Liar maupun jinak

Mereka tahu

dan mengerti

Mampukah kamu

merasakan dan mengikuti?”

 

Setelah sajak usai dibacakan,
lagu pun dilantunkan. Membawanya ke dalam sudut pikiran yang jarang terjamah
oleh masing-masing insan. (Burung punya sayap. Tapi tak mampu terbang. Aku
dapat terbang, meskipun aku tak punya sayap. Tapi ke mana?)

 

 

WeHa

Mei 14, 2007

23 : 15

Posted in Uncategorized | 1 Comment »

Seminggu Bertanya (Minggu)

Posted by weha on 16th May 2007

Tik… tik…. Tik….

Titik-titik air satu per satu
turun dan membasahi bumi dengan anugerah kehidupan. Pepohonan menegakkan
tubuhnya dan dedaunan membuka mulut-mulut kecilnya. Tidak ada yang menghalangi
mereka untuk mengambil sari-sari kehidupan dari butir-butir air yang turun
mengguyur.

Kecuali beberapa ilalang yang
telah diinjak-injak oleh seorang anak yang berlarian menembus rerumputan.

Ia berlari masuk ke tengah gang
sambil memegang erat 4 lembar uang ribuan dan gitar kecilnya. Tak ada pos
satpam di sekitar sini untuknya menumpang berteduh. Tidak juga ia berani masuk
ke warung hanya untuk sekedar berteduh. Memalukan, pikirnya. Apalagi meminta
berteduh di perumahans seperti ini.

(Hujan…. Hujan…. Mengapa hujan
selalu turun di saat aku harus mencari makan?), kutuknya dalam hati. (Dan
mengapa tidak ada satu bangsat kaya pun yang masih ingin memberikan sedikit
saja sebagian atapnya?)

Tak lama berlari, matanya tertuju
pada sebuah gerbang besar di sisi kiri gang. Halamannya yang seperti tempat
parkir memberitahunya bahwa tempat ini bukanlah rumah tinggal. Apalagi dengan
bangunan besar dan tinggi yang berdiri di tengah-tengah lahan dan dikelilingi
banyak sekali patung orang berjubah.

(Kelihatannya tidak ada orang,)
dan ia memanjat pagar yang tidak terlalu tinggi itu. Dengan langkah
terburu-buru, ia berlari ke serambi dengan pintu yang tampaknya adalah pintu
depan. Besar, indah dihiasi kaca warna-warni berupa gambar seorang anak
bermahkota. Setelah memeras air dari bajunya yang hanya satu itu, perlahan-lahan
ia membuka pintu.

Bangunan ini hanya punya satu
ruangan. Besar, luas, dan tinggi. Di dalamnya banyak sekali kursi-kursi
panjang, dan di depannya, berdiri sebuah meja batu besar dengan bunga-bunga.
Namun apa yang paling menarik perhatiannya adalah patung sesosok manusia, hampir
telanjang, dipaku di balok kayu. Tidak mengerti, ia berlalu dan matanya
berfokus pada piala-piala mengkilat di atas meja. Tangannya sudah setengah
jalan memegang piala itu sebelum ia mendengar sapaan.

"Indah bukan?”

“Eh? Apa?”, katanya kaget.
Seorang anak kecil lain juga telah berdiri di pintu.

“Piala itu. Indah bukan?”

“Oh. Iya. Bagus sekali.” Ia
meraih piala itu dan pura-pura memperhatikannya dengan seksama. (Dari mana anak
itu datang? Kok tadi gak kedengeran suara derit pintunya ya?)

 Anak kecil yang satunya lagi
berjalan maju sambil terus tersenyum. Pakaiannya sungguh aneh. Hanya sehelai
jubah seperti yang dipakai oleh patung-patung di luar. “Siapa namamu?”,
tanyanya.

 “Aku…. bukan siapa-siapa….”,
dijawabnya. “Hanya sedang berteduh. Kamu?”

 Tidak ada jawaban yang datang. Ia
hanya terus memandangnya sambil tersenyum polos. (Aneh benar anak ini…
Tampangnya udah kayak nyolot banget. Senyam-senyum terus.)

 “Kamu mau?”

“Mau apa?”

“Piala itu. Kelihatannya kamu
tertarik. Ambil saja.”

“Boleh?”

“Aku tidak keberatan.”

“Kamu anak yang punya tempat
ini?”

 Senyumnya semakin melebar dan
dijawabnya, “Sebenarnya, akulah pemilik tempat ini. Seluruh bangunan ini.” Lalu
ia berpaling dan suaranya berubah. “Hanya saja sahabat-sahabatku semakin
sedikit yang mau datang kemari.” Apakah itu di suaranya? Sedih? Marah? Takut?
Harapan?

 “Kalau kamu mau, kamu juga boleh
berteduh di sini hari ini. Sahabat-sahabatku sudah pulang sejak pagi tadi.”

“Ah… Terima kasih sekali. Kamu
punya makanan?”

“Banyak. Di lemari itu ada roti.
Ambillah. Kita makan bersama,” katanya sambil menunjuk ke sebuah kotak kuning
di dinding. (Gila… Anak ini tajir bener… Coba gua bisa kayak dia. Ato mungkin
gw bisa tinggal di sini terus?)

 Mereka makan bersama, kedua anak
itu. Roti yang diberikan sungguh enak. Jarang ia makan yang seenak ini.
Keduanya bercanda, tertawa bersama berjam-jam hingga malam tiba. Ia menyukai
anak ini. Ia ramah.

 “Kamu bisa memainkan musik?”

“Musik?”

“Kamu punya gitar kecil.”

“Oh. Iya. Gua ngamen soalnya. Tapi gak terlalu bagus kok.
Hehehe.”

“Coba mainkan satu lagu. Aku senang sekali musik.”

“Oke. Tapi jangan ketawain gua yah.”

 ……………

 “Gua lupa lanjutannya. Hehehehe….”

“Cukup bagus kok. Kalau kamu latihan terus, kamu pasti bisa
lebih bagus lagi.”

“Yah…. Aku

kan

cuma pengamen.”

“Pengamen juga bisa terkenal.”

“Dalem mimpi iya kali ya. Orang-orang sekarang, mo kasih
cepek ajah susah banget.”

“Kamu tidak punya rumah?”

“Enggak ada. Aku udah lama sendiri begini.”

“Lalu di mana kamu tinggal?”

“Di mana aja. Di kolong jembatan, di pinggir kali, di pos
satpam, kadang kalo ada yang baek ya gua tidur di beranda orang. Tapi
jaraaaaaang banget ada yang mau. Setahun sekali mungkin.”

“Kamu tidak mau mencari rumah yang tetap?”

“Gimana caranya? Mau cari di mana aj gua gak tau.”

“Carilah mulai besok. Kalau kamu terus gigih, aku yakin kamu
akan menemukannya.”

“….”

Ada

apa?”

“….Gua…. enggak boleh tinggal di sini sama lu?”

“Mungkin… Tapi nanti, saat kamu telah menemukannya.”

“Maksudmu?”

 Ia bangkit berdiri dan berkata:

Ada

seekor burung

Burung ingin terbang

Burung tak punya sayap

Apa burung dapat terbang?

Burung ingin pergi dari sarang

tapi sarang tinggi sekali

Salahkan burung

jika ia membenci sarangnya

tempat ia mengabiskan
berhari-hari

melihat burung terbang?

Bolehkah burung

membenci dirinya sendiri

karena tak punya sayap?

Apakah pohon tempat ia bersarang

harus dihukum?”

 Kemudian ia berbalik memandang
sang anak lagi dan berkata, “Tinggallah di sini malam ini. Tapi besok, carilah
rumahmu itu. Selamat malam.” Dan setelah tersenyum kepadanya, ia keluar dari
bangunan itu.

WeHa

Mei 13, 2007

23 : 35

Posted in Uncategorized | 1 Comment »

Anak Kampung

Posted by weha on 12th May 2007

……..

I’ll be there as soon as I can

But I’m busy mending broken

Pieces of the life I had before

Before you…

Tepuk tangan
terdengar. Seorang anak telah selesai menyanyikan lagunya di depan kelas.
Pembawaan yang menakjubkan dari seorang siswa SD, karena lafal inggrisnya yang
bagus.

“Bahasa Inggris
yang bagus. Kamu layak mendapat seratus. Nomor berikutnya.”

Aku bangkit
berdiri, mengumpulkan keberanian, dan melangkah maju. Di bawah tatapan mata
teman-teman dan Ibu Guru, aku membuka mulut.

Angin mamari ku pasang

Pitujui tongtongana

Tusarua takkan lupa

Eaule na mangu rangi

Tutenaya, tutenaya parisina

…..

Semuanya sunyi
ketika aku berhenti bernyanyi. Banyak anak bengong, yang lain tidur. Aku
mendengar Ibu Guru mempersilahkanku kembali ke tempat duduk. Tidak kurang,
tidak lebih. Padahal, kupikir suaraku cukup bagus.

 

 

Bel berdering
menandakan pelajaran musik selesai. Dan telinga kecilku mendapat sapaan yang
telah kukenal

“Lagu apa tuh?
Kayak bahasa dewa.”

“Angin Mamiri
dari

Ujung Pandang

“Hahaha! Dasar
anak kampung lu!”

Itulah aku. Anak
kampung, tidak punya radio, dan tidak pernah mendengarkan lagu-lagu bahasa
Inggeris. Bukannya aku merendah. Tapi memang begitulah keadaanku.

“ Itu lagu
daerah asalku. Aku suka sekali.”

“Hari gini?!”

Dan semua tertawa. Ejekan disambut celaan. Aku tidak
mengerti. Apa yang salah dengan lagu daerahku? Dan aku ikut tertawa. Kupikir
memang teman-temanku sedang senang, jadi aku akan ikut bersenang-senang dengan
mereka.

 

 

“Siapa yang
cinta Indonesiaaaaa?!”

Pertanyaan itu
keluar dari mulut sang guru seperti musik. Berirama dan lantang, sementara
semua anak berteriak menjawab : ‘Saya, Buuuu’ dengan koor yang tak kalah keras.

Aku melihat dia
ikut menjawab dengan bangga. Aneh, pikirku. Baru kemarin aku tertawa bersama
dia dan teman-temannya

“Siapa yang
peduli dengan negara brengsek kayak gini.”

“Iyah. Peduli
setan. Entar toh kita ke luar negeri juga

kan

kuliahnya.”

Baru ketika ku
pulang ke rumah aku mengerti apa maksudnya.

“Bu, brengsek
maksudnya apa?”

“DARI MANA KAMU
BELAJAR KATA ITU?! PERGAULANMU MULAI TIDAK BAIK YA!”

“Engga kok, Bu…
Aku anak baik. Aku gak nakal di sekolah… Tadi ada teman yang ngomong, tapi
aku gak ngerti…”

Ada

jeda kosong yang tak
ku mengerti. Tampaknya Ibu bimbang waktu itu. Wajahnya tertekuk, tanda dia
sedang berpikir, menimbang-nimbang.

“Kamu jangan
ngomong begitu lagi. Itu ejekan kasar yang tidak sopan.”

Ejekan?
Bagaimana mungkin seseorang mengejek negara sendiri bisa dengan muka secerah
itu berkata cinta negara? Apa aku yang tidak mengerti? Atau aku memang orang
aneh, orang kmapung, yang tidak tahu apa-apa?

 

 

Salah satu
temanku berulang tahun. Katanya, semua teman sekelas diundang makan di restoran
buffet mahal di mall dekat sekolahku. Hari Minggu ini, katanya. Dan aku datang
dengan baju baruku. Dengan bangga aku menjinjing hadiah ulang tahun kecil yang
akan kuberikan padanya, yang kubeli dengan uang tabunganku sebulan.

“Dateng juga
lu?”

“Ya. Ini kado
untuk kamu.”

“Oh. Oke Taro
ajah di sono.”

“Oke.”

Aku berjalan ke
tumpukan kado dan menaruh kado berhargaku. Warna abu-abu bungkus korannya
terlihat mencolok di antara warna-warni dan kilap bungkus kotak-kotak besar
lainnya. Tapi aku tak peduli. Tepatnya, aku tak sadar. Yang kutahu aku sudah
memberikan kado dan itu membuatku bangga.

“Di mana aku
duduk?”

“Di kursi itu.
Jangan pindah-pindah yah. Soalnya udah gua tentuin tempat duduk masing-masing.”

Dan aku
berjalan. Tersenyum. Berpikir aku akan bersenang-senang bersama teman-temanku
hari ini. Berdoa bersama, makan bersama, bermain-main, dan tertawa. Tapi ketika
aku telah duduk, aku sadar apa yang telah kududuki. Sebuah kursi di ujung meja.
Jauh sekali jaraknya dari teman-temanku yang lain untuk mata kecilku ini. Aku
masih bisa mendengar mereka tertawa, dan aku pun ikut tertawa bersama mereka.
Mereka senang, aku pun mau senang.

 

 

“Yah si miskin datang juga.”

“Iiih… bajunya belel banget.”

“Kadonya aja dibungkus koran gitu.”

“Kamu kok undang dia?”

“Nyokap udah terlanjur bilang semua diundang sih….”

“Ya udah suruh duduk di pojok sono aja.”

“Iyah. Jangan sampe dia deket-deket sama kita.”

 

 

Makanannya enak.
Jadi ini yang dimakan teman-temanku setiap hari di istana mereka. Baru kali ini
aku makan sebanyak ini. Aku puas dan senang…. sampai aku melihat dia di pintu
mall.

“Pak,
sumbangannya?”

“Enggak.
Ngabis-ngabisin uang ajah.”

“Ini buat yatim
piatu, Pak.”

“Enggak.”

“…..”

“Ini, Kak. Aku
mau nyumbang.”

“Oh. Makasih
yah, Dik.”

“Seribu aja gak
apa-apa

kan

,Kak?”

“Enggak apa-apa
kok. Makasih banyak yah.”

“Iya, Kak.”

 

 

“Eh, lu yang
kemaren ngasih ini pensil warna yah?”

“Iya. Benar. Aku
kasih kamu itu kemarin. Bagus gak?”

“Gua gak perlu
nih. Gua udah dibeliin sama nyokap gua. Satu set lengkap 50 warna. Keren
banget. Jadi, nih gua balikin. Lu pake ajah.”

“Hah?”

Dan ia berlalu.
Perbincangan singkat, tapi menimbulkan kesan yang sangat mendalam. Lebih dalam
dari laut, lebih dalam dari jurang. Dan aku kembali berpikir dengan otak kecil
dan luguku ini. Aku tak mengerti.

 

 

Di dalam kamar
gelap ini kududuk bersila. Merenungi pengalaman beberapa hari terakhir.
Pengalaman seperti ini tidak jarang kualami. Tidak jarang kulihat terjadi
kepada teman-teman lain yang minoritas.

Sama sepertiku,
mereka tidak mengerti. Bukankah kita sama-sama manusia? Mengapa harus ada yang
berkuasa dan dikuasai? Mengapa ada yang ditinggikan dan direndahkan? Aku
bertanya kepada hitam, dan ia tak bisa menemukan jawabannya.

Maka kutulis
catatan ini untuk mengingatkanku selalu bahwa di dunia ini tidak ada kebaikan
yang mudah didapat.

 

Kata Kak Anwar

Aku binatang jalang

dari kumpulannya yang terbuang

Namun kini kubertanya

Siapakah engkau

yang sama-sama memiliki

dua telinga sepertiku

dua mata sepertiku

satu hidung dengan dua lubang

dan berjalan dengan dua kaki?

 

Mungkin otakku otak udang

dan kantongku kering kerontang

Tapi satu hal aku tahu pasti

Bahwa aku bukanlah awan

yang pergi ke mana angin menyuruhnya

Bahwa topeng bukanlah temanku

yang berusaha berbaik-baik di balik
kelalimannya

Dan bahwa aku

adalah aku

meskipun rumah jagal adalah tempatku 

 

 

 

WeHa

Mei 11, 2007

9:33 PM

Posted in Uncategorized | 1 Comment »

udah lama

Posted by weha on 6th May 2007

Yah…. memang udah lama gw gak nulis blog secara normal. Alasannya : hidup gw emang sebulan ini rasanya kosong. Kosong dalam arti yang sebenar-benarnya. Seperti gurun pasir Sahara, Samudera Pasifik, atau jarak antara galaksi bima sakti dan galaksi andromeda. Pada akhirnya, gw menggali sisi gila gw yang mungkin udah dalem banget. Sampe-sampe tangan gw melepuh n badan penuh debu. nulis puisi. Meskipun begitu, untuk mengerti arti-arti puisi gw, lu bahkan harus menggali lebih dalam lagi. Lebih dalam dari palung, lebih dalam dari jarak keliling dunia, yaitu sedalam hati anda sendiri. Siapa yang tahu? Hanya anda dan Sang Maha Tahu di atas sana.

For all of us, who will soon go through one of the greatest changes in our life.

TO JULY
By : William Handjaja

In my kingdom, beneath the roof
the air rang, clear to the heart
while the infant waited
the coming of July

In the sea, the stormy sea
sailed a ship, a big ship
creacking here and there
like and old man waiting for July

Through the desert, the wide desert
camels walk the path, the invisible path
guided by the wind and the sun
never knowing when to reach the end

Weeks come and go
still we don’t know
what awaits in July
and the world beyond

Face your destiny
oh sons and daughters of man
for there awaits glory
in the end of July

Never fear the future, the uncertain one
He who knows all brings the lantern
to help you get through
beyond July

(copylefted by WeHa)

Posted in Uncategorized | No Comments »

Strong in Body, Weak in Heart

Posted by weha on 3rd May 2007

This is a story
of a land beyond the sea
in the middle of chaos
trying to stick together

The king built a fortress
within the kingdom walls
A wall made of stone
too high and too thick to destroy

Many times enemy attacked
Many times they prevailed
Leaving the opponent frustrated
and giving up attacking

Many moons past
The kingdom holds itself together
Said to be unbeatable
But are they?

Strong in body, weak in heart
that is what ruined them
The citizen turned upon the ruler
taking the fortress for themselves

Counts turned upon barons
fathers and sons fought
and servants with maids
Nothing is as it used to be

‘You built a stone wall to protect us
but in truth you hide all your evil here
Now we use it to keep you out
Bring on the siege!’

This is a story
of a kingdom beyond the sea
and how it was destroyed
Are you strong enough to prevent this?

Not me….

Posted in Uncategorized | No Comments »