Seminggu Bertanya (Senin)
Posted by weha on 20th May 2007
Krieeet…. Srak… Duk…. “ADUH!”
Keheningan fajar dipecah oleh
suara benturan. Koor jangkrik yang mengiringi tidurnya seolah terhenti. Dan
perlahan-lahan, kedua lensa itu berkontraksi, mencari-cari cahaya di tengah
kegelapan.
(Jam berapa ini?), pikirnya. Hari
masih gelap, tapi ia menduga kalau pagi pasti hampir tiba karena sudah ada
suara-suara orang. Apalagi ini hari Senin. Tangannya menggapai-gapai dalam
kegelapan. Seingatnya, di atas meja batu ada lilin dan korek api. Tapi baru
jari lemasnya menyentuh kotak korek, suara itu datang lagi.
“OUCH!!”
“Sssshhh….!!”
Serambi dan bilik seakan-akan
memahami otaknya, dan ikut takut, bahkan untuk berdetak. Dengan perlahan-lahan
tubuhnya ia paksa bangun dan mengintip dari balik rangkaian bunga-bunga.
Sekejap sudut matanya menangkap punggung menyelinap keluar pintu samping. Dan
terdengar suara seperti metal yang berbenturan.
(Pencuri…. Aku harus kabur…),
pikirnya. Ia segera, mengambil gitarnya dan berjinjit keluar pintu utama. Fajar
sudah dekat. Sang raja cahaya telah mulai menginvasi daratan biru nan luas
untuk kesekian kalinya dari Timur. Dengan sigap pagar dipanjatnya kembali dan
ia berjalan menuju jalan raya.
Sudah hari Senin. Hari di mana
semua orang sibuk. Berlomba-lomba untuk mencari sesuap nasi seakan-akan tidak
ada hari esok. Hari di mana langit tampak paling cerah, ikut menambah
penderitaan beban punggung dengan panas yang menyengat. Hari di mana…..
“Setoran!!!!!! Mampuslah gua….
Mana duit gua??” Dirogohnya sakunya dan yang tergenggam hanyalah empat genggam uang
seribuan. Tak cukup untuk menutupi jumlah setoran yang harus dibayar hari ini.
Bahkan, setengahnya saja tidak ada. Atau seperempat? Atau seperdelapan?
Angka-angka pecahan itu tak berarti baginya. Yang jelas, cahaya sang surya di
matanya telah menyadarkannya satu hal yang pasti : Ia harus kabur…..lagi……
Dan ia kabur. Lari. Tanpa henti.
Tanpa menoleh. Baru minggu lalu ia dipukuli karena tak bisa bayar setoran, dan
ancaman dibunuh 3 hari lalu telah menambahkan sayap ke kakinya. 3
kota
telah dijelajahinya.
Menumpang truk buah-buahan, berjalan tanpa arah, tidur di kolong jembatan,
dibangunkan paksa, dimintai uang, dan diancam kalau tak mau kerja.
Mengamen, mencopet, menjambret,
pernah ia lakukan untuk memenuhi semua itu. Tapi apa daya tangan lugu ini tak mampu
menipu suara hati. Dan pada akhirnya ia harus kabur lagi.
Bulan telah tinggi ketika ia
berhenti berlari. Ia tak kenal bagian
kota
ini. Pastilah ia telah keluar dari daerah para penjahat sialan itu. Langkahnya
melambat sampai akhirnya ia berhenti di pinggir kali. Memandang sampah-sampah
yang hanyut. (Apakah aku sampah?)
Tak jauh dari
sana
ada sebuah warteg. Terbangun dari kayu
dicat biru langit. Tulisan ‘WARTEG BU INDAH, SEDIA NASI GORENG, MI
GORENG
,
MI
REBUS……’ membuatnya menyadari teriakan perutnya. (Udah dari kemaren gua belum
makan. Empat ribu cukup beli apa ya….?)
“Malem, dik. Mau pesen apa?”
“…… Uhm…. Empat ribu cukup beli
apa ya, Bu?”
“Empat ribu? Ibu masih punya
gorengan sedikit. Satunya
lima
ratus. Tapi udah dingin kali”
“Enggak apa-apa, Bu. Saya ambil.
Makasih, Bu.”
Ia mengambil dua. Dipikirnya
mungkin uangnya bisa diemat untuk empat kali makan. Sementara ia duduk, ibu
penjaga warung memerhatikannya dari sudut matanya sementara mengelap gelas.
“Airnya, dik?”
“Eh?”
“Minum ajah. Kamu haus
kan
?”
“Oh iya. Makasih, Bu.”
“……”
“Kamu habis jalan jauh? Kamu dari
mana?”
“Ini masih di
Jakarta
, Bu?”
“Waduh. Udah jauh tuh, dik. Ini
mah udah mau deket Tangerang kali.”
(Aku aman…?)
“Sendirian dari
Jakarta
, dik?”
“I… iya, Bu.”
“Oooo gitu. Habis ini adik mo jalan
lagi? Mau ke mana?”
“I…. itu…. masih belum tau, Bu.”
Ibu itu manggut-manggut, lalu
membalikkan badan. Menyibukan diri kembali dengan hal-hal yang tidak terlalu
dipedulikan olehnya. Ia lelah. Ia ingin berhenti berlari. Tak mungkinkah ia
dapat hidup bebas? Dan sambil termenung, tampaklah sebuah sangkar digantung
dengan dua ekor burung kecil di dalamnya.
Burung pipit. Hijau muda dengan
biru di ujung sayapnya, satunya lagi kuning cerah. Sangat cantik. Seperti
gambar yang pernah ia lihat di dinding sekolah-sekolah dasar. Dan burung-burung
itu bersiul riang. Dan sekejap ia ingat kembali.
“Bu, ada gak burung yang gak
punya sayap?”
“Eh? Adik bilang apa?”
“Burung.
Ada
gak yang gak punya sayap?”
“Walah… Ibu ya mana tau. Selama
ini Ibu piara burung selalu ada sayapnya. Kalo gak ada ya namanya bukan burung
dong.” Ibu itu tertawa.
“Terus ada burung yang gak bisa
terbang gak?”
“Aduh, dik. Ibu mah dulu gak
sekolah. Mana tau. Mungkin aja di luar negeri ada. Tapi toh Ibu juga gak tau.”
“Kira-kira siapa yang tahu ya, Bu?”
“Mungkin penjualnya kali. Lain
kali Ibu tanya deh kalo beli burung lagi.”
“Mungkin aku tanya saja ke dia
ya, Bu? Hehehe.” Dan ia berdiri di atas kursi, dan berkata kepada kedua burung,
“Hei. Temen lu ada yang gak punya sayap gak?”
Cit… cit… cit… crit cuit cuit
cuit…..
Dan mereka berdua tertawa senang
mendengar alunan nyanyian si kecil. Tak disangka, makhluk sekecil ini dapat
menghasilkan suara begitu indah. Betapa bahagianya. Menyanyi setiap hari, tanpa
tekanan, tanpa beban, tanpa tanggung jawab.
<Yakin…?>
(Hah?)
<Yakin…?>
(Apa maksudnya?)
Tak ada jawaban. Yang terdengar
saat itu hanyalah sang pembawa acara di radio kecil yang baru saja dinyalakan
si ibu.
“Selamat malam. Kita bertemu
kembali dalam acara request lagu.
Bagaimana kabar anda hari ini? Banyak ulangan di sekolah? Tugas kuliah
menumpuk? Harus lembur di kantor? Tak masalah. Kami akan membantu anda
melepaskan beban anda. Biarkan diri anda bebas agar dapat menyelesaikan semua
tugas anda dengan hati ringan. Dan sajak untuk malam ini dikirim oleh xxxxx.
Mari kita dengar.
“Marilah ikut aku ke
padang
dan lihatlah
sejauh memandang
Siapakah yang dapat menjawab
pertanyaan alam ini?
Ada
awan di langit
Siapakah yang paling bebas
dari duka dan sakit?
Jangan tanyakan
pada rumput yang bergoyang
Tanyakan pada kuda
Liar maupun jinak
Mereka tahu
dan mengerti
Mampukah kamu
merasakan dan mengikuti?”
Setelah sajak usai dibacakan,
lagu pun dilantunkan. Membawanya ke dalam sudut pikiran yang jarang terjamah
oleh masing-masing insan. (Burung punya sayap. Tapi tak mampu terbang. Aku
dapat terbang, meskipun aku tak punya sayap. Tapi ke mana?)
WeHa
Mei 14, 2007
23 : 15
Posted in Uncategorized | 1 Comment »