Teng teng teng teng…
Suara tukang bakso di pinggir
jalan membangunkannya dari tidur yang nyenyak. Sudah lama ia tidak tidur
selelap ini. Inilah dunianya. Dunia anak jalanan. Ia telah nyaman di dunia ini selama
ia masih bisa tidur, makan, minum, berteduh,……..hidup.
Matanya mengerjap-ngerjap
menyesuaikan dengan cahaya sambil mengingat-ingat pengalaman hari sebelumnya.
Pikirannya teringat pada teman barunya yang nekat kabur dari rumah dan tidur di
bawah jembatan semalam. Ia segera mencari-carinya.
Ia masih di
sana
. Duduk di atas sepetak kardus sambil
memperhatikannya. Kemudian ia mengulurkan sebungkus gorengan untuk dimakan.
Mereka makan dengan diam.
“Semalam kamu bilang aku harus
pulang…”
“?”
“Mungkin kamu benar.”
“Jadi Kakak mau pulang?”
“Mungkin. Kamu mau temani aku?”
“Boleh. Sekalian jalan-jalan,
Kak. Aku juga tidak tahu hari ini ke mana.”
“Tapi nanti siangan aja. Aku
masih mau di sini sebentar.”
“Oh… Oke Kak. Eh ada yang maen
bola di
sana
.
Aku maen sebentar yah Kak.”
“…”
Kemudian ia berlari ke arah
sekumpulan anak yang sedang bermain sepak bola. Ia meminta bergabung dan mereka
menerimanya dengan senang hati. Sementara temannya hanya duduk dan
memperhatikan.
Siang itu, mereka berjalan
bersama kembali ke rumah temannya. Untunglah siang itu agak mendung sehingga
mereka tak kepanasan. Temannya bertanya banyak hal tentang kehidupan si anak
seperti bagaimana ia mencari uang, di mana ia biasa tinggal, dengan siapa, dan
pengalaman-pengalaman lainnya. Anak itu menjawab dengan riang dan temannya
memperhatikan dengan seksama sambil terus bertanya, semakin lama semakin
antusias.
Lama mereka berjalan, tak terasa
mereka sudah sampai di daerah perumahan tempat mereka bertemu. Anak SMA itu
berjalan semakin pelan dan semakin ragu, membuat yang bersamanya bingung. Tentu
saja ia sedang takut akan kemungkinan ia dimarahi. Sampai akhirnya mereka sudah
di dekat rumahnya, ia berhenti.
“Rumahku yang itu.”
“Wah… Besar sekali, Kak.”
“Iyah. Penghasilan orang tuaku
lumayan banyak.”
“Kakak tidak ketuk pintunya?”
“…. Kira-kira orang tuaku marah
tidak?”
“Bukankah mereka malah senang
kalau Kakak pulang?”
“Semoga saja. Ayo ikut.”
Mereka berjalan mendekati pintu
gerbang metal yang sangat tinggi. Rumah itu memang besar. Sangat besar dibandingkan
dengan rumah-rumah lainnya. Tidak dapat disangkal lagi, anak ini pasti anak
dari golongan ekonomi atas yang hampir pasti tidak akan pernah terlihat bersama
dengan anak pengamen kalau bukan kebetulan.
Dengan ragu-ragu, anak itu
menekan bel di samping pintu gerbang. Selama beberapa waktu tidak ada yang
membukakan pintu dan bel itu ditekan kembali. Barulah terdengar ada kegiatan di
balik gerbang itu. Dan tiba-tiba, pintu gerbang itu terbuka dan keluarlah
seorang ibu.
“Ibu aku pulang.”
“Kamu dari mana saja?! Semalaman
tidak pulang! Mencoba lari dari tugas-tugas kamu yah?!”
“Ibu… jangan begitu…”
“Ayo masuk! Kamu tidak sekolah
hari ini jadi kamu harus belajar sekarang!”
“Ibu… Aku gak mau belajar terus!”
“Membantah perintah ibu?!
Berani-beraninya kamu!”
Sang pengamen mencoba menengahi.
“Tante, anak tante capai belajar.
Bisa tidak dikasih istirahat…?”
“Siapa kamu? Ikut campur urusan
orang! Pergi
sana
!”
“Ibu jangan begitu! Dia teman
saya!”
“Kamu mau berteman dengan pengemis
kayak dia! Gila kamu! Iman, usir anak ini jauh-jauh! Kamu, kemari!”
Dan ibu itu menarik telinga si
anak ke dalam rumah. Di depan rumah, ia hanya dapat membayangkan apa yang
terjadi di dalam rumah. Ia tidak dapat masuk. Si sopir menghalangi jalan dan
pandangannya. Walaupun wajahnya juga menunjukkan belas kasihan, ia tetap tidak
dapat membiarkannya lewat.
“Bapak tidak bisa tolong Kakak
itu?”
“Maaf yah, dik. Si juragan emang
kasihan. Tapi saya juga gak boleh ikut campur. Takutnya saya dipecat. Gaji di
sini lumayan buat menghidupi keluarga saya.”
“Kakak kasihan yah. Uangnya
banyak tapi gak bisa santai-santai.”
“Iyah dik. Oh ya. Ini bapak kasih
kamu sedikit uang. Terima kasih udah bawa si juragan balik. Ayahnya semalaman
tidak bisa tidur karena khawatir.”
“Oh. Terima kasih, Pak. Saya
pamit dulu.”
PRANG!!!
Suara beling pecah. Keduanya
terpaku, yang tua dan muda. Keduanya ngeri membayangkan apa yang terjadi di
dalam rumah. Pak Iman menengok ke arah pintu rumah dan berjalan meninggalkan
pintu gerbang terbuka. Tidak dapat menahan rasa penasaran, anak kecil itu pun
ikut masuk.
Suara-suara teriakan terdengar
dari dalam rumah dan Pak Iman mulai berlari ke pintu depan rumah. Begitu masuk
ke dalam, ia berteriak minta tolong. Ruang depan langsung dipenuhi oleh
pekerja-pekerja rumah, mulai dari tukang kebun sampai pembantu rumah tangga.
Semuanya panik.
Dan di sela-sela tubuh, tangan,
dan kaki, matanya kembali menemui darah. Temannya yang dikenalnya agak pendiam
akhirnya telah meledak. Pecahan vas bunga berserakan dan ibu tadi tergeletak di
lantai. (Lalu di mana Kakak itu?), carinya.
Di dinding terlihat dia terduduk.
Matanya seperti kosong, tapi ia tersenyum? Tidak. Ia tertawa! Ia tertawa makin
keras, mengambil pecahan vas, dan bergerak ke urat nadi di pergelangan
tangannya.
Sadar kalau temannya akan bunuh
diri, ia melompat dan menyambar lengan yang memegang beling itu. Seketika,
seseorang yang tampaknya seperti tukan kebun meraih lengan satunya dan menampar
muka anak itu, mencoba untuk menyadarkan dia dari kegilaan ini.
Keributan mereda ketika satpam
datang dan mengambil alih kepemimpinan di rumah ini. Perban dan handuk diambil,
polisi serta rumah sakit ditelepon, dan si anak dipastikan tidak berbuat ulah
lagi.
Polisi dan ambulans datang tidak
berapa lama, disusul sang kepala keluarga yang panik setengah mati. Istrinya
telah dibawa ke rumah sakit dan dari raut muka sang dokter, kelihatannya
keadaannya parah. Sang suami bertemu dengan anaknya sebentar, dan langsung
berangkat menyusul ke rumah sakit.
Dan dari dua orang pembantu, ia
mendengar kata-kata ini :
“Sampai kapan mereka dapat
bertahan?”
“Sampai mereka dapat menerima dan
memaafkan.”
WeHa
Mei 24, 2007
02 : 15