The Ws and Hs

We shall not cease from exploration and the end of all our exploring will be to arrive where we started and know the place for the first time.

Archive for June, 2007

Sedang bingung

Posted by weha on 8th June 2007

Yah… beginilah penyakit orang libur. Kurang kerjaan sampe-sampe pikirannya melayang ke mana-mana. Nyasar gak jelas sampe2 bingung mo kemana lagi karena udah gak bisa lebih nyasar dari nyasar. Gw udah 4 malem berturut-turut gak bisa tidur malem. Gelisah. gak tau nih mikirin apa. Apalagi setelah diceritain sejarah…. ada deh. Yang pasti lagi gelisah aj. Untung besok harus skolah buat bantuin Sigit bikin ppt foto2 bayi. Asik juga bisa liat2 foto2 lucu. Hehe.

Btw, klo boleh milih mo jadi tukang gorok orang ato jadi orang paling terhormat di dunia, lu pilih mana? Gw udah gak bisa menentukan lagi mana yang lebih buruk dari antara dua itu…

Posted in Uncategorized | No Comments »

Seminggu Bertanya (Sabtu)

Posted by weha on 3rd June 2007

Krik krik krik krik….

 

Suara jangkrik terdengar nyaring
dari halaman yang luas di malam hari itu. Kembali ia memilih dini hari untuk
kabur agar semakin sedikit kemungkinan ada yang menghalanginya. Orang

kota

terbiasa tidur di
ranjang yang nyaman sehingga sulit bangun. Kalaupun ia bersuara, paling hanya
dianggap tikus di atap.

 

Dibukanya selimut yang menutupi
tubuhnya. Ia melirik jam di meja sebelah ranjangnya dan memutuskan sudah cukup
larut dan tidak mungkin ada satupun penghuni rumah ini yang bangun.

 

Ia segera turun dari ranjang dan
membuka pintu kamarnya perlahan-lahan. Ia sudah terbiasa dengan kegelapan. Dan
sambil berjingkat ia berjalan menuju tangga. Sesaat langkahnya terhenti di
depan satu kamar tidur. Di dalamnya temannya tentu sedang beristirahat.

 

(Maaf aku tak sempat pamit.
Semoga cepat sembuh dan sukses selalu), ucapnya dalam hati. Kemudian ia
bergerak lagi.

 

“Pergi tanpa pamit?”, suara itu
membuatnya kaget. Sesosok orang tiba-tiba bangkit berdiri di tangga. Ternyata
temannya itu telah menunggunya. Dalam hitam pekat ini, tak mungkin ada yang
dapat melihatnya duduk menunggu.

 

“Tidak….”

“Kamu bohong.”

“Tidak. Aku….”

“Akui saja. Aku tahu kamu. Tapi
tidak apa-apa. Dari percakapan kita, aku bisa mengerti.”

“…. Kakak marah?”

“Mungkin.”

“Maaf. Aku hanya….”

“Tidak perlu minta maaf. Aku yang
seharusnya berterima kasih padamu.”

“Aku tidak melakukan apa-apa.”

Ada

. Kamu berrtemu aku.”

“Aku tidak ngerti….”

“Aku tetap berterima kasih.”

“…”

“…”

“… Kak, aku boleh pergi?”

“Pergilah. Kunci gerbang sudah
aku buka. Duniamu memang di luar

sana

.
Tpai inilah duniaku. Aku akan mencoba menghadapi semua ini.”

“Terima kasih, Kak.”

“Semoga selamat dan sampai jumpa.”

“Eh, Kak….”

Ada

apa?”

“Anjingnya lucu.”

 

Keduanya saling bertatapan dan
tersenyum. Meskipun yang satu tak dapat melihat wajah yang lain, mereka
sama-sama tahu. Mereka mengerti. Dan ia pun bergerak lagi. Turun ke lantai
bawah dan menuju pintu depan.

 

Malam yang cerah menyambutnya.
Bintang-bintang bersinar terang seolah menyambutnya kembali. Si anjing, yang
kebetulan sedang tidur di halaman depan, terbangun mendengar derit pintu. Ia
mendatangi anjing itu dan menggaruk kepalanya sebentar.

 

“Jaga tuanmu yah. Aku pergi
dulu.”

 

Ia membuka gembok dan pintu
gerbang, lalu keluar dan menutupnya kembali. Ia telah kembali ke jalanan.
Rasanya lega sekali. Sungguh satu minggu yang penuh kejadian. Bulan membantunya
mengingat semua kejadian itu kembali sambil berjalan-jalan menyusuri jalanan
keluar komplek perumahan.

 

Kembali ke jalan besar, ia
berjalan tanpa arah seperti dulu. Sampai ia mendekati sebuah lampu pengatur
lalu lintas. Di bawahnya ada seorang pria agak tua sedang menunggu lampu
pengatur memberi tanda untuk menyeberang. Padahal jalanan saat itu kosong.

 

Pria itu mengeluarkan sapu tangan
dari sakunyadan mengusapkannya ke kepalanya. Tepat ketika itu, sehelai kartu
kecil ikut terjatuh dari sakunya. Lampu lalu lintas berubah dan ia segera
menyeberang.

 

Ia tak tahan sampai ke tempat
penyeberangan itu dan mengambil kartu tersebut. Kartu itu tampaknya berasal
dari sebuah kedai kopi.

 

KOPI YANG ANDA MINUM HARI INI:

‘KOPI TIWUS’

 

Artinya:

Walau tak ada yang
sempurna,

hidup ini indah
begini adanya.

 

 

Sebuah kartu kecil yang dapat
berkata tentang banyak hal. Memang ia adalah anak jalanan. Ia tidak punya
rumah. Ia tidak punya orang tua. Hidup susah. Cari uang susah. Tapi semua itu
selalu dapat dilaluinya. Dan di akhir hari, ia selalu masih dapat tersenyum.
Walaupun itu hanya sekedar mengamati anak kucing bermain-main.

 

Kedua sudut mulutnya terangkat. Seluruh
dunia ini adalah tempat tinggalnya dan langit adalah atapnya. Rumah yang dari
dulu ia cari sebenarnya telah ia tempati sejak dulu.

 

(Anak kaya dulu itu benar. Aku
hanya tak menyadarinya. Sekarang aku telah menemukan rumahku. Ia pasti akan
ikut senang juga.)

 

Kemudian ia teringat untuk
mengembalikan kartu ini kepada pria yang menjatuhkannya. Dicari-carinya pria
itu dan tampak ada di seberang jalan. Kakinya serta-merta bergerak mengejar
masuk ke jalanan dan…..

 

CIIIIIIIIIII……..TTT!!! BRAK!!

 

/////////////

 

“Tidak ada data diri?”

“Tidak.”

“Tidak ada yang melihat?”

“Tidak. Ia pasti tertabrak tadi
malam ketika jalanan sepi.”

“Sudah diperiksa dengan teliti?”

“Ya. Dia hanya memegang kartu
ini.”

“Hmm…. Kalau begitu kita tidak
bisa apa-apa. Panggil ambulans dan bawa dia ke rumah sakit. Biar mereka yang
mengurusnya.”

“Baik.”

 

Petugas itu melihat kembali kartu
yang diserahkan bawahannya dengan seksama. Sudut bibirnya terangkat dan ia
memasukkan kartu itu ke dalam kantong baju tugasnya. Dan sambil melihat ke arah
anak itu, ia berkata, “apakah kau sudah menyadari hal itu, nak?”

 

Dan ia pergi.

 

 

WeHa

Juni 3, 2007

01 : 15

Posted in Uncategorized | No Comments »

Seminggu Bertanya (Jumat)

Posted by weha on 3rd June 2007

Tik… tok… tik… TENG…! TENG…!

 

Jam sudah menunjukkan pukul dua
dini hari. Keadaan rumah begitu sepi. Rumah ini terasa seperti rumah hantu. Namun,
ia masih terjaga di depan kamar temannya. Seorang pembantu membuka pintu dan
berkata bahwa demam yang diderita temannya semakin tinggi dan ia akan turun
mengambil lebih banyak es batu untuk membuat kompres.

 

Sejak kejadian kemarin, temannya
itu tiba-tiba tidak sadarkan diri dan perlahan-lahan suhu tubuhnya mulai naik.
Ayahnya masih menunggui ibunya di rumah sakit sehingga para pembantu harus
mengambil inisiatif merawatnya sendiri di rumah.

 

Ia masuk ke dalam kamar untuk
sejenak menjenguk anak yang kemarin terlihat begitu kalem dan agak
menyenangkan. Wajahnya gelisah. Tubuhnya berkeringat. Bola matanya tampak
bergerak-gerak walaupun ia tertidur, Pasti ia sedang bermimpi buruk. Setiap
orang yang melihat keadaannya saat ini akan bertanya-tanya hal menyeramkan apa
yang mungkin diperlihatkan oleh bawah sadarnya.

 

Ia kemudian mengambil kain yang
ada di atas dahinya, merendamnya dalam baskom berisi air dingin, memerasnya,
dan menaruhnya kembali seperti yang ia lihat dilakukan oleh sang pembantu.

 

Pembantu itu kembali dan ia
keluar dari kamar. Ia ingin menghirup udara segar sebentar di halaman. Otaknya
yang lelah merindukan angin segar yang dingin. Langit malam sangat cerah. Bulan
purnama bersinar terang dan terlihat jelas dari halaman belakang yang besar
itu. Sejenak, ia berdiri mematung menikmati suasana.

 

Kemudian ia mendengar suara-suara
dari sebuah kotak di sudut. Didatanginyalah kotak itu yang ternyata adalah
kandang dengan seekor anjing Golden
Retriever
muda di dalamnya. Lucu sekali. Ia membelai bulu-bulunya dan
menggaruk kepalanya.

 

Anjing itu terlihat sedih dan
lesu. Seakan-akan ia tahu apa yang sedang terjadi di rumah ini. Memang, ia
pasti dapat mendengar teriakan-teriakan kemarin. Tapi apakah seekor anjing
dapat mengerti perkataan manusia sebaik itu?

 

Ia membuka kandang dan anjing itu
keluar. Melihatnya berjalan berputar-putar sambil mengibaskan ekor sungguh
membuatnya merasa tenang. Sungguh suatu hal yang sederhana memiliki banyak
manfaat bagi hati yang sedang hancur ini. Anjing itu kemudian duduk di depannya
dan menaruh kepalanya di atas pahanya. Lama-kelamaan, rasa lelah merajainya dan
ia pun tertidur.

 

////////////////////////

 

Pagi hari, ia dibangunkan oleh
seseorang. Pandangannya masih buram karena cahaya matahari tepat mengenai
wajahnya. Ia mengusap-usap sedikit dan melihat bahwa yang membangunkannya
adalah seorang bapak. Kelihatannya ia adalah tuan rumah ini. Satu sosok yang
mungkin palign menderita namun tak dapat berbuat apa-apa selama ini.

 

“Nak, apakah kamu yang membawa
pulang anakku kemarin?”

“Bapak ayahnya?”

“Ya. Saya ayahnya.”

“Bagaimana keadaan Ibu, Pak?”

“Ia masih di rumah sakit. Tapi ia
sudah sadar. Dokter bilang ia akan sembuh.”

“Syukurlah…”

“Terima kasih padamu, Nak.”

“Kenapa berterima kasih, Pak?”

“Setidaknya anakku sudah pulang.
Dan mungkin setelah semua kejadian ini, kami bisa kembali membicarakan seluruh
hal ini kembali. Kau telah membuka jalan dengan membawanya kembali.”

“Aku hanya ngobrol dengan dia…”

“Apapun yang kamu lakukan, hali
itu membantu anakku dan aku berterima kasih.”

“Uh…. Tidak apa-apa, Pak. Senang
bisa membantu. Bagaimana keadaan Kakak?”

“Demamnya sudah turun. Sekarang
ia masih tidur.”

“….”

“Nak, kata Pak Iman kamu
gelandangan?”

“Iya Pak.”

“Kalau mau, saya bisa bantu kamu
apa saja. Kamu bisa tinggal di sini. Mungkin bisa membantu keluarga kami
memperbaiki semua ini.”

“Terima kasih, Pak. Tapi tak
usah.”

“Kenapa? Saya bisa mengangkat
kamu sebagai anak.”

“….”

“Setidaknya tinggallah di sini
beberapa hari. Temani anak saya sampai sembuh. Tolong yah?”

“… Oke, Pak.”

“Baiklah. Sekarang saya akan naik
sebentar, lalu pergi lagi ke rumah sakit. Saya akan minta pembantu menyiapkan
makanan dan kamar untukmu. Sekali lagi terima kasih.”

 

Dan bapak itu pergi. Ia masih tak
percaya. Ia diizinkan tinggal di rumah ini. Rumah yang besar. Rumah orang kaya.
Seluruh hidupnya berubah hanya dalam satu malam saja. Tapi kalau dipikir-pikir,
hidupnya memang sangat unik selama seminggu ini. Mungkinkah ini takdir? Kalau
ya, kepada siapa ia harus berterima kasih?

 

(Terima kasih ya Allah. Engkau
telah membawaku melihat dunia), katanya dalam hati.

 

Sepanjang siang itu, ia
benar-benar merasakan sesuatu yang baru. Makanan enak yang belum pernah ia
rasakan dan tidur di ranjang yang empuk. Ia kembali tertidur pulas dengan hati
tenang dan perut kenyang.

 

 

///////////////////

 

Sore hari ia terbangun dari
tidurnya. Badannya benar-benar segar kali ini. Betapa tidak. Ia tidur di
ranjang besar nan empuk si ruangan ber-AC dingin dan nyaman. Ia meragangkan
tubuhnya dan membuka pintu kamarnya.

 

Ia melihat pintu kamar sahabatnya
terbuka.sedikit. Diliriknya ke dalam untuk melihat apakah ia sudah bangun.
Ternyata di dalam kamar itu ada ayahnya juga. Mereka terlihat sedang
berbincang-bincang. Tanpa sengaja, ia mendengar kata-katanya.

 

“…. apa-apa. Ibu akan sembuh.”

“Tapi mungkin Ibu gak bakal
maafin aku, yah.”

“Ayah sudah ngomong sama Ibu. Dan
dia tidak menyalahkanmu.”

“Aku minta maaf, yah. Aku lagi
emosi kemarin. Udah gak ketahan lagi.”

“Iya. Ayah juga minta maaf
menaruh harapan terlalu tinggi untuk masa depan kamu samapi-sampai tidak sadar
beban yang kamu pikul.”

“Aku gak mau seperti ini lagi.
Aku mau hidup bebas. Aku gak mau selamanya terkekang.”

“Kita akan bicarakan itu dengan
ibumu nanti. Tapi percayalah. Semuanya akan menjadi lebih baik. Terima kasih
untuk temanmu itu….”

 

Ia mundur dari pintu dan berjalan
kembali ke kamarnya. Otaknya kembali berputar cepat mengingat perkataan
temannya tadi. Apakah ia benar-benar ingin tinggal di rumah ini? Dengan segala
kemewahan ini? Apakah ia akan betah? Hatinya memberikan jawaban dan dengan
segera, pikirannya dipenuhi oleh rencana-rencana.

 

 

WeHa

Mei 31, 2007

04 : 22

Posted in Uncategorized | No Comments »

Seminggu Bertanya (Kamis)

Posted by weha on 3rd June 2007

Teng teng teng teng…

 

Suara tukang bakso di pinggir
jalan membangunkannya dari tidur yang nyenyak. Sudah lama ia tidak tidur
selelap ini. Inilah dunianya. Dunia anak jalanan. Ia telah nyaman di dunia ini selama
ia masih bisa tidur, makan, minum, berteduh,……..hidup.

 

Matanya mengerjap-ngerjap
menyesuaikan dengan cahaya sambil mengingat-ingat pengalaman hari sebelumnya.
Pikirannya teringat pada teman barunya yang nekat kabur dari rumah dan tidur di
bawah jembatan semalam. Ia segera mencari-carinya.

 

Ia masih di

sana

. Duduk di atas sepetak kardus sambil
memperhatikannya. Kemudian ia mengulurkan sebungkus gorengan untuk dimakan.
Mereka makan dengan diam.

 

“Semalam kamu bilang aku harus
pulang…”

“?”

“Mungkin kamu benar.”

“Jadi Kakak mau pulang?”

“Mungkin. Kamu mau temani aku?”

“Boleh. Sekalian jalan-jalan,
Kak. Aku juga tidak tahu hari ini ke mana.”

“Tapi nanti siangan aja. Aku
masih mau di sini sebentar.”

“Oh… Oke Kak. Eh ada yang maen
bola di

sana

.
Aku maen sebentar yah Kak.”

“…”

 

Kemudian ia berlari ke arah
sekumpulan anak yang sedang bermain sepak bola. Ia meminta bergabung dan mereka
menerimanya dengan senang hati. Sementara temannya hanya duduk dan
memperhatikan.

 

Siang itu, mereka berjalan
bersama kembali ke rumah temannya. Untunglah siang itu agak mendung sehingga
mereka tak kepanasan. Temannya bertanya banyak hal tentang kehidupan si anak
seperti bagaimana ia mencari uang, di mana ia biasa tinggal, dengan siapa, dan
pengalaman-pengalaman lainnya. Anak itu menjawab dengan riang dan temannya
memperhatikan dengan seksama sambil terus bertanya, semakin lama semakin
antusias.

 

Lama mereka berjalan, tak terasa
mereka sudah sampai di daerah perumahan tempat mereka bertemu. Anak SMA itu
berjalan semakin pelan dan semakin ragu, membuat yang bersamanya bingung. Tentu
saja ia sedang takut akan kemungkinan ia dimarahi. Sampai akhirnya mereka sudah
di dekat rumahnya, ia berhenti.

 

“Rumahku yang itu.”

“Wah… Besar sekali, Kak.”

“Iyah. Penghasilan orang tuaku
lumayan banyak.”

“Kakak tidak ketuk pintunya?”

“…. Kira-kira orang tuaku marah
tidak?”

“Bukankah mereka malah senang
kalau Kakak pulang?”

“Semoga saja. Ayo ikut.”

 

Mereka berjalan mendekati pintu
gerbang metal yang sangat tinggi. Rumah itu memang besar. Sangat besar dibandingkan
dengan rumah-rumah lainnya. Tidak dapat disangkal lagi, anak ini pasti anak
dari golongan ekonomi atas yang hampir pasti tidak akan pernah terlihat bersama
dengan anak pengamen kalau bukan kebetulan.

 

Dengan ragu-ragu, anak itu
menekan bel di samping pintu gerbang. Selama beberapa waktu tidak ada yang
membukakan pintu dan bel itu ditekan kembali. Barulah terdengar ada kegiatan di
balik gerbang itu. Dan tiba-tiba, pintu gerbang itu terbuka dan keluarlah
seorang ibu.

 

“Ibu aku pulang.”

“Kamu dari mana saja?! Semalaman
tidak pulang! Mencoba lari dari tugas-tugas kamu yah?!”

“Ibu… jangan begitu…”

“Ayo masuk! Kamu tidak sekolah
hari ini jadi kamu harus belajar sekarang!”

“Ibu… Aku gak mau belajar terus!”

“Membantah perintah ibu?!
Berani-beraninya kamu!”

 

Sang pengamen mencoba menengahi.

 

“Tante, anak tante capai belajar.
Bisa tidak dikasih istirahat…?”

“Siapa kamu? Ikut campur urusan
orang! Pergi

sana

!”

“Ibu jangan begitu! Dia teman
saya!”

“Kamu mau berteman dengan pengemis
kayak dia! Gila kamu! Iman, usir anak ini jauh-jauh! Kamu, kemari!”

 

Dan ibu itu menarik telinga si
anak ke dalam rumah. Di depan rumah, ia hanya dapat membayangkan apa yang
terjadi di dalam rumah. Ia tidak dapat masuk. Si sopir menghalangi jalan dan
pandangannya. Walaupun wajahnya juga menunjukkan belas kasihan, ia tetap tidak
dapat membiarkannya lewat.

 

“Bapak tidak bisa tolong Kakak
itu?”

“Maaf yah, dik. Si juragan emang
kasihan. Tapi saya juga gak boleh ikut campur. Takutnya saya dipecat. Gaji di
sini lumayan buat menghidupi keluarga saya.”

“Kakak kasihan yah. Uangnya
banyak tapi gak bisa santai-santai.”

“Iyah dik. Oh ya. Ini bapak kasih
kamu sedikit uang. Terima kasih udah bawa si juragan balik. Ayahnya semalaman
tidak bisa tidur karena khawatir.”

“Oh. Terima kasih, Pak. Saya
pamit dulu.”

 

PRANG!!!

 

Suara beling pecah. Keduanya
terpaku, yang tua dan muda. Keduanya ngeri membayangkan apa yang terjadi di
dalam rumah. Pak Iman menengok ke arah pintu rumah dan berjalan meninggalkan
pintu gerbang terbuka. Tidak dapat menahan rasa penasaran, anak kecil itu pun
ikut masuk.

 

Suara-suara teriakan terdengar
dari dalam rumah dan Pak Iman mulai berlari ke pintu depan rumah. Begitu masuk
ke dalam, ia berteriak minta tolong. Ruang depan langsung dipenuhi oleh
pekerja-pekerja rumah, mulai dari tukang kebun sampai pembantu rumah tangga.
Semuanya panik.

 

Dan di sela-sela tubuh, tangan,
dan kaki, matanya kembali menemui darah. Temannya yang dikenalnya agak pendiam
akhirnya telah meledak. Pecahan vas bunga berserakan dan ibu tadi tergeletak di
lantai. (Lalu di mana Kakak itu?), carinya.

 

Di dinding terlihat dia terduduk.
Matanya seperti kosong, tapi ia tersenyum? Tidak. Ia tertawa! Ia tertawa makin
keras, mengambil pecahan vas, dan bergerak ke urat nadi di pergelangan
tangannya.

 

Sadar kalau temannya akan bunuh
diri, ia melompat dan menyambar lengan yang memegang beling itu. Seketika,
seseorang yang tampaknya seperti tukan kebun meraih lengan satunya dan menampar
muka anak itu, mencoba untuk menyadarkan dia dari kegilaan ini.

 

Keributan mereda ketika satpam
datang dan mengambil alih kepemimpinan di rumah ini. Perban dan handuk diambil,
polisi serta rumah sakit ditelepon, dan si anak dipastikan tidak berbuat ulah
lagi.

 

Polisi dan ambulans datang tidak
berapa lama, disusul sang kepala keluarga yang panik setengah mati. Istrinya
telah dibawa ke rumah sakit dan dari raut muka sang dokter, kelihatannya
keadaannya parah. Sang suami bertemu dengan anaknya sebentar, dan langsung
berangkat menyusul ke rumah sakit.

 

Dan dari dua orang pembantu, ia
mendengar kata-kata ini :

 

“Sampai kapan mereka dapat
bertahan?”

“Sampai mereka dapat menerima dan
memaafkan.”

 

WeHa

Mei 24, 2007

02 : 15

Posted in Uncategorized | No Comments »

Seminggu Bertanya (Rabu)

Posted by weha on 3rd June 2007

Nging… ngung…. Nging… ngung….

 

Suara sirene mobil polisi sering
terdengar. Tidur di kantor polisi sungguh tidak nyaman walaupun ia
diperbolehkan menikmati empuknya kursi. Hanya saja, di sini penuh dengan
orang-orang besar, yang wajahnya tampak garang dengan seragam coklat. Semua ini
hal baru baginya. Dan ia takut.

 

Ia melihat-lihat ke sekeliling
kantor itu. Tidak ada yang mempedulikan dia lagi. Begitu pula dengan bapak
galak yang kemarin menanyainya sampai malam. Sungguh pengalaman yang tidak
enak. Ia ingin pergi dari sini.

 

Ia mulai berjalan ke pintu. Tidak
ada yang memanggilnya. Ia melangkah keluar. Petugas-petugas hanya duduk-duduk
tanpa peduli. Kakinya terus melangkah sampai lapangan parkir. Tidak ada yang
menahannya. Akhirnya ia sampai di pinggir jalan. Ia bebas.

 

Kakinya kembali berlari. Dari
bantaran kali masuk-keluar komplek perumahan. Di sepanjang jalan raya, di
antara gedung-gedung tinggi perkantoran, ia tidak peduli. Ia hanya berharap
kelelahannya dapat membuatnya melupakan semua yang telah ia alami. Ia hanya
berbeda beberapa menit dari bertemu langsung dengan orang yang mungkin tahu apa
yang sedang terjadi di dunia ini.

 

Sekarang semua telah hilang. Ia
harus mulai dari awal lagi. Dan ia tak punya petunjuk sama sekali. Bahkan ia
rasanya tak mungkin hidup karena gitarnya sudah entah di mana. Mungkinkah di
komplek perumahan ini? Ia tidak tahu. Ia berlari kemanapun angin memberitahunya.
Dan kakinya tidak merasakan lelah sampai ia menabrak seorang anak lain.

 

“Woi! Liat-liat dong kalo jalan!”

“Aduh. Maaf.”

 

Anak itu lebih tua dari dia.
Mungkin sekitar SMA. Ia membawa sebuah tas punggung besar yang tampaknya penuh
barang dan berat sekali sampai-sampai ikut terjatuh walaupun tubuhnya cukup
besar. Dipanggulnya kembali tas itu dengan mudah dan mulai berjalan menjauh.
Tapi untuk apa ia membawa ransel sepenuh itu di

kota

seluas ini?

 

Tubuhnya seolah-olah ditarik oleh
sesuatu. Ia mengikuti anak itu, tapi masih tidak berani terlalu dekat. Untuk
beberapa waktu ia berhenti di pinggir jalan, melihat ke arah datangnya
kendaraan. Mungkin ia ingin mencari taksi? Tapi sudah ada beberapa taksi lewat
dan ia tidak bergeming. Di ujung

sana

ada dua bus sedang ngetem, dan mikrolet baru saja berangkat. Tak lama, trotoar
kembali disusurinya.

 

Ada

yang aneh dari orang ini. Seolah-olah ia
berjalan tanpa tujuan. Ia tidak tahu harus ke mana. Sungguh aneh melihat
pakaiannya yang tergolong bersih. Tidak mungkin ia gelandangan dan tuna wisma

kan

? Mungkin turis yang
tersesat? Tapi mana ada turis jalan-jalan sendiri seperti ini?

 

Lama kelamaan ia makin penasaran.
Jarak antara mereka berdua semakin dekat hingga akhirnya ia berjalan tepat di
belakang anak itu. Anak itu juga sekali-sekali menoleh kepadanya. Tapi sampai
sekarang ia masih berpura-pura tidak mengerti pada anak kecil itu. Mungkin ia
harus ambil inisiatif.

 

“Kakak mau ke mana?”

 

Tidak ada jawaban. Mereka
berjalan terus.

 

“Kakak tidak punya rumah juga?”

“Bukan urusan kamu.”

“Kalo Kakak tidak punya rumah,
aku bisa temenin. Aku juga tidak punya rumah.”

“Gak usah. Udah ah. Pergi sono.”

 

Lama sekali mereka terus
berjalan. Hanya sekali berhenti ketika anak itu makan siang di warung. Selama
itu, ia terus memperhatikannya dengan seksama. Dan sampai sore tiba, kelelahan
tampak jelas di matanya.

 

“Kakak

cape

yah

?”

“….”

“Istirahat aja dulu, Kak.”

“Hhh… Kamu mau apa sih…?”

“Enggak apa-apa. Cuma penasaran
aja. Kakak tidak punya rumah?”

“….”

“Kakak bisa tinggal di kolong jembatan.
Mau aku antarkan? Aku juga mau cari tempat tidur. Udah malem.”

“….”

“Ya udah. Aku jalan duluan. Kalo
Kakak cari aku, ak di kolong jembatan

sana

.”

 

Dan ia pergi ke kolong jembatan
itu. Memang sudah seharusnya ia pergi sekarang. Ia harus bergabung dengan
orang-orang yang senasib dengannya. Berjuang bersama melawan dinginnya malam di

kota

.

 

Di

sana

ia menemukan sepotong kardus tak
bertuan. Diambilnya untuk digunakan sebagai alas tidur dan pergi ke sudut untuk
beristirahat. Namun, belum lama ia duduk, sang anak terlihat berdiri ragu-ragu
di pinggir jalan.

 

“Kak! Sini, Kak!”

 

Anak itu berjalan mendekat.
Ragu-ragu karena semua hal ini pasti hal yang baru baginya. Mungkin saja ia
bahkan belum pernah melihat sisi gelap ini, yang kejam dan memakan siapapun yang
tidak mau berusaha.

 

“Kamu selalu tidur seperti ini?”

“Iya. Aku udah lama gak punya
rumah. Tiap hari ngamen. Yah… kecuali beberapa hari ini. Kakak?”

“….”

 

Anak itu tampak pendiam. Ia
mendapati sepotong kardus lain dan menggelarnya juga, menaruh tasnya, dan duduk
menghela napas. Beberapa waktu mereka diam. Sementara anak itu termenung, ia
sudah berbaring dan hampir terlelap ketika akhirnya percakapan dibuka kembali.

 

“Aku punya rumah.”

“Uh…?”

“Aku punya rumah.”

“Terus kenapa Kakak gak tinggal
di rumah?”

“Aku…. gak mau….”

“Gak mau? Kenapa, Kak?”

“….”

“….”

“Kamu pernah punya orang tua?”

 

Yang diajak bicara hanya
berkedip.

 

“Aku gak pernah ketemu papa
mamaku.”

“Oh? Beneran?”

“Iyah.”

“O… Sori kalo gitu. Aku gak tau.”

“Memang kenapa orang tua Kakak?”

“Aku… gak tahan di rumah. Orang
tuaku suruh aku belajar terus. Gak dikasih waktu maen sedikitpun. Terus abis
itu mereka sering berantem. Tiap hari. Gak ada berhentinya.”

“Terus?”

“Terus? Terus gimana? Ya aku gak
tahan lah! Makanya aku pergi….”

“Kakak pergi dari rumah?”

“Iya.”

“Kok Kakak mau? Di rumah

kan

enak. Bisa tidur di
ranjang, bisa makan enak, bisa ke sekolah, bisa nonton teve….”

“Engga… Aku udah gak peduli sama
rumah. Apa lagi sama orang tuaku. Mereka jahat sama aku.”

“Setidaknya

kan

Kakak masih punya papa sama mama. Yakin
gak nyesel?”

“….”

“Aku tidur dulu yah, Kak. Capek.”

 

Lama suasana hening. Suara-suara
kendaraan bermotor lalu lalang di jam sore yang sibuk. Di kolong jembatan itu,
ia dapat tidur dengan pulas, tidak tahu bahwa kata-kata polosnya dapat memindahkan
gunung.

 

WeHa

Mei 19, 2007

00 : 31

Posted in Uncategorized | No Comments »

Seminggu Bertanya (Selasa)

Posted by weha on 3rd June 2007

Sssrrrrr…… Kriet kriet kriet

 

Keran dimatikan, air berhenti
mengalir. Ia mengangkat ember hitam tua yang telah penuh air itu bersama dengan
satu ember penuh air lainnya. Bu Indah sudah menawarkan ia menginap malam tadi,
jadi, hari ini ia akan membantu sang Ibu menjaga Wartegnya. Mencuci, memotong
sayuran, atau sekedar nungguin air matang, apapun yang mungkin bisa sedikit
membantu Bu Indah.

 

Ditaruhnya kedua ember tersebut
di samping Warteg dan ia masuk ke dalam.

 

“Bu, airnya sudah saya ambil.”

“Oh oke. Kamu tolong cuci piring
ini yah.”

“Beres, Bu.”

 

Diangkatnya piring-piring yang
telah ditunjuk Bu Indah dari sudut, dan setelah menemukan sabun colek yang
barang

lima

ratus rupiah itu, ia keluar lagi untuk mencuci. Seluruh konsentrasinya tertuju
pada piring yang sedang dicuci sampai-sampai ia tidak mendengar ada orang
datang makan. Baru ketika orang itu mulai berbicara keras-keras pada temannya,
ia menangkap sebagian dari percakapannya.

 

“….. harus percaya kalau semua
orang itu sama. Ya perempuan, ya laki, ya orang kita, ya orang Cina, ya normal,
ya homo, semuanya sama. Patriotisme itu taik. Perang itu goblok….” **

 

Mukanya menoleh. Dilihatnya
seorang pemuda berbadan gagah, dengan pakaian serba metal. Anting-anting tak
terhitung di mukanya, apalagi gambar tengkorak di bajunya. Ditambah tato-tato
yang garang, orang itu lebih seram dari tukang pukul manapun. Tapi
kata-katanya….

 

Ia bergegas mencuci piring
terakhir, berharap dapat melihat wajah sang pemuda lebih jelas ketika membawa
masuk piring-piring itu. Namun, begitu dia masuk ke dalam, pemuda itu bersama
temannya sudah membayar Bu Indah dan berjalan ke mobil yang diparkir di dekat

sana

.

 

“Ibu, tadi itu siapa?”

“Ah, cuman pelanggan. Akhir-akhir
ini dia sering datang ke sini sama temen-temennya. Tapi gak pasti kapan aja.
Kenapa?”

“Engga apa-apa. Cuma tampangnya
kayaknya serem banget yah.”

“Ya gitu lah anak muda jaman
sekarang.”

 

Matanya menatap mobil merah yang
telah menjauh dan hilang di belokan. Dari bentuk dan rendahnya mobil, ia tahu
bahwa itu bukan sembarang mobil. Pasti impor punya. Sungguh penasaran bagaimana
orang dengan mobil seperti itu sudi secara rutin makan di Warteg. Apalagi di
daerah kumuh bantaran kali seperti ini. Bisa-bisa….

 

Penasaran, ia berlari ke belokan.
Hatinya setengah mengharap mobil itu belum jauh sehingga ia mungkin bisa
mengikutinya. Namun setengah hatinya lagi tahu mobil seperti itu rata-rata
berkekuatan tinggi.

 

Harapannya terkabul, namun tidak
sebaik yang diinginkannya. Di depan

sana

,
mobil itu berhenti. Di sekelilingnya banyak orang-orang.

Lima

… enam… tujuh… delapan orang.

Ada

yang membawa kampak,
golok, bahkan palu. Beberapa orang menggedor-gedor kaca mobil. Bahkan, ada yang
sempat menusukkan pisaunya ke ban mobil itu.

 

Kemudian terjadi hal yang
membuatnya tambah semakin ngeri. Orang tadi bersama dengan 3 temannya keluar
dari mobil. Yang satu tampak berusaha berbicara baik-baik dengan mereka.
Sia-sia…

 

“Lu cari masalah di sini?! Dateng
pake mobil impor segala!”

“Lu pikir lu hebat?!”

“Mas… Mas… Sabar dulu. Kenapa
sih?”

“Sabar… Sabar… Orang-orang kayak
lu tuh yang bikin negara miskin!”

“Mana bokap lu yang pejabat?!”

“Eh, bokap kita-kita ini gak ada
yang pejabat. Jangan sembarangan lu!”

“Alah! Banyak bacot! Diem lu!”

 

PRANG!!! Satu kaca mobil pecah.

 

“EH! Lu jangan maen serang orang
dong! Lu mau duit bilang ajah!”

“Heh! Kita ni gak butuh duit lu!
Haram! Dasar Ci*a koruptor!

“Ngomong sembarangan! Gw bukan
Ci*a! Lu tuh! Pribumi gak tau adat! Maunya duit gampangan melulu!”

“Brengsek! Rasain nih! Biar tau
rasa!”

 

PRANG!!! Satu lagi kaca pecah.

 

“Brenti gak lu?!”

“Ato apa? Lu Mau tabok gw? Wahahahaha!!!”

 

*BUK*

 

Satu suara yang diikuti
keheningan, kemudian keributan yang memecahkan telinga. Ia berpaling, namun
sudut matanya menangkap banyak darah.

Ada

orang-orang berjatuhan. Bukan keempat orang itu saja. Ia tidak tahu apa yang
terjadi. Tapi ketika suara-suara berhenti, tidak ada orang yang berdiri.

 

Di dekatnya beberapa orang
berlarian. Menghindari masalah lanjutan yang siapa tahu akan datang. Tapi tidak
ada satupun yang mendekat untuk melihat keadaan pria-pria yang tergeletak itu.

 

Akhirnya rasa penasaran menguasai
dirinya. Pelan-pelan, ia berjalan maju mendekati. Bau darah mulai tercium
menyengat. Hampir ia muntah melihat luka-luka terbuka di tubuh-tubuh itu.
Hatinya tercekat ketika melihat orang itu, terbaring terlungkup dan bermandikan
darah.

 

Cepat-cepat ia membalikkan tubuh
orang itu. Di perutnya ada sobekan besar. Kemudian untuk beberapa saat, mata
mereka bertemu. Ia masih hidup!

 

“Kamu…. tolong…”

“Ah… Iya. Saya akan panggil
polisi. Sebentar yah, Bang. Abang bisa…”

“…tolong… mereka… Jangan saya.”

 

Ia terbatuk, dari mulutnya keluar
darah. Perlahan-lahan, kepalanya turun. Sekilas, ia melihat pemuda itu
tersenyum. “Syukurlah… masih… ada…. yang….” Dan ia tak pernah menghembuskan
nafas lagi.

 

<… tolong mereka… Jangan
saya…>

 

WeHa

16 Mei, 2007

16 : 37

 

** Dikutip dari ‘Supernova :
Akar’ untuk mengingatkan kita kembali bahwa kita adalah sebangsa dan setanah
air

Posted in Uncategorized | No Comments »