The Ws and Hs

We shall not cease from exploration and the end of all our exploring will be to arrive where we started and know the place for the first time.

Archive for June, 2008

Challenge Answered

Posted by weha on 29th June 2008

Well, if you’ve read the second from last post, I’ve finished the story and posted it in kemudian.com website. Miss worm hasn’t given her comment so I’m still dead anxious. I don’t think I really satisfied what she wants. Oh well, it’s a learning process, right? I will post the challengers’ comments when they’re all out. So, if you want to read it, here it is. Sorry that it’s only in Indonesia, but, enjoy.

Aku Ingin Melihat Minnesota

   

Matahari telah tinggi di langit.
Udara terasa panas dan lembab. Langit yang bersih dan rumput-rumput
hijau serta bunga-bunga berbagai warna yang bertebaran di sana-sini
menandakan musim panas telah kembali di Minnesota setelah musim dingin
yang dinginnya sudah tidak lucu lagi.

Di halaman belakang kampus, James sedang duduk di bawah pohon yang
rindang, menghindari sinar matahari yang terasa membakar. Sesekali ia
menguap dan melihat jam tangannya. Tetapi, selama ia duduk di bawah
pohon itu, pandangannya selalu tertuju kepada satu orang : Lia.

Lia sedang duduk di meja di dekatnya dengan sebuah buku. Raut
wajahnya yang serius tidak mengurangi kecantikan wajahnya. Sebaliknya,
menurut James, kecantikan wajahnya bertambah. Dengan rambut lembut yang
panjang dan proporsi tubuh yang ideal, ia dapat merebut perhatian pria
manapun.

James melihat jam tangannya sekali lagi. Sudah satu jam ia duduk di tempat itu. Ia bangkit berdiri dan berjalan ke arah Lia.

“Bagaimana tugasnya?” tanya James kepada Lia.

“Maaf?” tanya Lia. Halaman belakang saat itu sedikit ramai dan
berisik oleh orang-orang yang antusias menyambut musim panas dengan
berteriak-teriak dan bermain bola.

“Bagaimana tugasnya?” ulang James. Namun, alis Lia yang terangkat
menunjukkan raut wajahnya yang bingung siapa pria tampan yang ada di
depannya itu.

“Oh, aku James,” kata James. “Kamu Lia bukan? Mahasiswa pertukaran
pelajar itu? Aku sekelas denganmu. Kalkulus? Jam delapan pagi?”

“Oh, benar,” kata Lia. “Mengapa aku jarang melihatmu di kelas?”

“Aku bosan. Aku sudah mengerti semua bahan yang diajarkan oleh
dosen. Jadi lebih baik aku bolos saja. Bagaimana tugasnya?” tanya James
lagi.

“Tugas ini sangat sulit. Kalau kamu sudah mengerti, bagaimana kalau kamu ajari aku?” pinta Lia.

“Baik.”

**********

Biasanya, hari Minggu bagi James tidaklah membosankan seperti hari
itu. Teman-teman wanitanya semua menolak diajaknya jalan dengan
berbagai alasan. Padahal, James selalu dapat dengan mudah berduaan
dengan wanita manapun di hari Minggu.

Pikirannya teralih ke buku teks kalkulus di depannya dan ia teringat akan Lia. Mungkin Lia mau kuajak pergi, pikirnya. Lagipula, perempuan itu cukup cantik baginya. Dan ia pun menelepon Lia.

“Lia, bolehkah aku datang ke rumahmu?” tanya James di telepon.

“Hari ini?” kata Lia terkejut. “Maaf. Hari ini aku harus mengikuti acara kebaktian.”

“Bagaimana kalau nanti malam? Kamu akan kutraktir makan. Aku jamin kamu pasti belum pernah mencoba restoran yang kupilih.”

“Baiklah. Sampai nanti malam,” kata Lia mengakhiri pembicaraan.

James juga menutup telepon genggamnya. Ia tersenyum. Malam ini harus berhasil, pikirnya.

***********

“Terima kasih sudah mau mengajakku, James. Makanan tadi benar-benar lezat,” kata Lia.

“Kembali,” jawab James. Mereka sedang berada di dalam mobil James
dan menuju ke tempat tinggal Lia. “Bagaimana dengan kebaktianmu hari
ini?” tanya James.

“Baik. Beruntunglah ada Gereja di dekat tempatku tinggal,” jawab Lia. “Mulai sekarang aku harus rajin pergi ke Gereja kembali.”

Keduanya terus mengobrol hingga mereka sampai di depan gedung
apartemen Lia. James memarkir mobilnya dan mematikan mesin mobil.
Namun, mereka tidak juga keluar. James menoleh ke arah Lia.

“Lia, sudahkah kuberitahu? Anting dan kalungmu bagus sekali,” kata James.

“Oh betulkah? Terima kasih,” balas Lia.

“Kamu terlihat cantik malam ini,” lanjut James. Lia tampak tersipu
malu. Dalam cahaya remang-remang itu, wajahnya terlihat semakin cantik.
Keduanya terdiam sebentar.

Tiba-tiba, tangan kiri James menyentuh wajah Lia. Tangan kanannya
membelai rambut Lia yang lembut, kemudian turun ke lengannya. Ia dapat
merasakan jantungnya dan jantung Lia berdegup kencang.

“James, apa…”

“Sshhh…” kata James menenangkan Lia. Kemudian ia membawa wajah Lia
mendekat. Mata mereka saling bertatapan. Kedua wajah mereka saling
mendekat… mendekat…

“TIDAK!!!” teriak Lia. Ia mendorong tubuh James. “ Apa yang sedang kamu lakukan? Kamu sedang bermain-main dengan aku?”

“Lia, maaf… Aku…”

“Tidak,” kata Lia. Ia membuka pintu mobil dan beranjak keluar.

“Lia!” kata James ia meraih tangan Lia dan menariknya kembali ke
dalam mobil. Panik, Lia menampar wajah James dengan sekuat tenaga.
Pegangan James melonggar dan Lia berhasil melepaskan diri.

“Lia!!!” panggil James. Namun Lia tidak berhenti dan terus berjalan ke dalam gedung apartemennya.

Keesokan harinya, James datang sebelum kuliah dimulai, di luar dari
kebiasaannya yang selalu datang terlambat. Ia merasa kesal. Belum
pernah ada perempuan yang menolak ia cium. Belasan perempuan bahkan
telah berbuat lebih jauh dan tidur bersamanya. Namun perempuan yang
satu ini benar-benar kurang ajar. Tamparannya masih terasa sakit di
pipinya. Perempuan ini harus diberi pelajaran, pikirnya.

Lia tidak juga datang. Padahal James tahu bahwa Lia selalu datang
lebih awal untuk berdiskusi dengan mahasiswa-mahasiswa lainnya. Lima
menit setelah kelas dimulai, Lia tampak di ujung lorong, berjalan
cepat-cepat.

“Lia…” James memulai. Namun, Lia tidak mengindahkan James dan terus
saja berjalan masuk ke dalam ruang kelas. James terpaksa mengikutinya
ke dalam kelas. Sayangnya, di ruang kuliah yang besar itu, Lia sengaja
mengambil tempat duduk di antara dua orang lainnya daripada tempat lain
yang lebih kosong sehingga James terpaksa mengambil tempat di belakang
ruangan yang cenderung lebih kosong.

Setelah kelas selesai, James segera lari ke pintu untuk mencegat Lia.

“Lia…” kata James.

“Tidak, James,” kata Lia.

“Tapi…”

“James, kamu baik dan tampan. Tetapi itu semua tidak cukup,” kata Lia.

“Apa maksudmu?” tanya James.

“Baik. Kalau kamu serius, kamu harus membawaku melihat-lihat lebih
banyak hal-hal menarik di Minnesota ini terlebih dahulu. Baru nanti
kuizinkan,” kata Lia.

“Hal-hal baru?”, ulang James. “Banyak sekali maumu. Baiklah.
Bersiap-siaplah mulai besok.” Kemudian James berbalik pergi. Jika Lia
memintanya berkeliling Minnesota dan menyenangkannya, ia adalah ahlinya.

********

Ia adalah ahlinya? James tidak yakin lagi bahwa ia adalah ahli
menyenangkan perempuan. Setidaknya, tidak untuk Lia. Hari Senin setelah
kelas Lia selesai, ia mengajaknya ke tepi sungai Mississippi. Dari
cerita Lia, ia tidak yakin Lia dapat melihat pemandangan matahari
terbenam di tepi pantai yang begitu indah.

Sayangnya, di tempat andalan para pria itu, rayuan-rayuan James
tidak mempan terhadap Lia. “Apa bagusnya? Tempat seperti ini bisa saya
lihat di gambar-gambar di internet,” katanya.

Hari Selasa malam, gemerlapnya daerah Uptown yang penuh
dengan bar-bar dan tempat makan pinggir jalan juga ditolak
mentah-mentah oleh Lia. “Aku tidak suka orang mabuk. Apalagi banyak
perokok di sini. Bau!” umpatnya.

Hari Rabu dan Kamis ia menolak pergi karena ada tugas kuliah. Hari
Jumat ia tertidur ketika sedang menonton pertunjukan drama terkenal
oleh grup Shakespeare and Company. Akhirnya, hari Sabtu dan Minggu ia menolak pergi lagi.

“Jadi sebenarnya apa yang kamu suka?” tanya James kehabisan kesabaran pada hari Senin setelahnya.

“Kamu tidak memperlihatkanku sesuatu yang spesial. Sungai dan pusat
makanan dan bar adalah sesuatu yang biasa. Aku juga dapat menonton
drama di mana saja, kapan saja,” kata Lia. “Aku ingin melihat
Minnesota, James. Minnesota yang sebenarnya.”

Seketika itu juga, James sadar. Tentu saja Lia tidak menyukai
matahari terbenam di tepi sungai karena matahari terbenam dapat dilihat
setiap hari. Tentu saja Lia tidak menyukai daerah bar dan tempat
makanan karena ia tidak suka minum-minum dan perempuan harus menjaga
pola makannya. Tentu saja ia tidak menyukai drama karena… Yah, sudah
dapat ditebak. Yang ia inginkan adalah sesuatu yang hanya terdapat di
Minnesota seperti yang Windry inginkan.

“Baiklah. Besok aku akan membawamu ke tempat yang sama sekali berbeda,” kata James. “Bersiap-siaplah.”

Keesokan harinya, James memaksa Lia untuk membolos dari kuliah untuk
pergi ke tempat spesial yang dijanjikannya. Mereka akan pergi memancing
di danau White Bear, atau danau Beruang Putih.

“Kau yakin tidak apa-apa?” kata Lia.

“Tentu saja. Katamu kau belum pernah memancing di… Di mana negara asalmu? Malaysia?” tanya James.

“Indonesia…”

“Ya, India, apapun itu. Pokoknya, kamu harus mencobanya musim panas
ini. Ini adalah kegiatan outdoor yang paling populer di Minnesota,”
kata James.

“Tapi kita kan ada kelas sebentar lagi,” kata Lia masih kurang yakin.

“Aku tidak peduli. Lagipula kita hanya akan mengulang pelajaran kemarin,” kata James lagi.

James berjalan ke atas dermaga di tepi danau menuju sebuah perahu motor. “Perahumu?” tanya Lia.

“Bukan.”

“Kita akan mencuri perahu?”

“Bukan mencuri. Hanya meminjam saja kok,” lanjut James enteng.

“Tapi itu adalah dosa…”

“Sudahlah. Pemilik perahu ini tidak akan tahu. Ini hari Selasa.
Mereka pasti sedang bekerja. Lagipula mereka juga tidak pernah memakai
perahu ini. Orang-orang membeli perahu hanya karena potongan harganya
terlihat menggiurkan. Mereka bahkan tidak memikirkan terlebih dahulu di
mana mereka akan menaruhnya, atau apakah mereka bahkan akan memakainya.
Tetapi, mereka tetap saja membelinya,” jelas James.

“Tapi kita tidak punya kunci mesin…” Namun, sebelum Lia selesai
bicara, james mengeluarkan pisau lipatnya dan membuka kotak mesin di
bawah setir.

“Hei, bukan kebetulan nilaiku selalu A di kelas mekanika mesin,”
kata James. Tak lama, mesin perahu motor tersebut berhasil dinyalakan
dan mereka segera berangkat ke tengah danau.

Belum dua puluh menit mereka memancing, Lia sudah gelisah. Umpan
pancingnya berulangkali ditarik dan dilemparkan kembali. Ia berulang
kali menjulurkan kepalanya ke atas air untuk memastikan keberadaan
ikan-ikan. Bersamaan dengan itu semua, Telinga James penuh dengan
“Mengapa ikannya tidak tertangkap juga James?”, atau “Kau yakin di
danau ini ada ikan?” dan “Bosan, bosan, bosaaaan!!!!”

“Lia, jangan terlalu banyak bergerak dan bicara. Nanti ikan-ikannya pada takut semua,” kata James mencoba menenangkannya.

“Tetapi aku bosan. Danau ini tidak lebih menarik dari tempat-tempat lain yang kamu perlihatkan,” kata Lia.

“Baiklah. Kalau begitu, bagaimana kuceritakan sebuah cerita? Cerita
ini yang akan membuat kunjungan ke danau ini menjadi berbeda dari
kunjungan-kunjungan lainnya,” kata James menawarkan.

“Hmm… Boleh saja. Cerita apa?”

“Ehem, ehem,” James bersiap-siap. “Aku akan menceritakan kisah
mengapa danau ini disebut danau Beruang Putih. Pada zaman dahulu,
daerah ini dikuasai oleh suku-suku Indian. Alkisah terdapat seorang
prajurit Indian yang jatuh cinta kepada putri kepala sukunya. Wanita
itu pun juga menyukainya.”

“Sayangnya…” kata James berhenti sejenak.

“Sayangnya kenapa?” tanya Lia.

“Sayangnya ada ikan yang baru saja memakan umpanmu barusan. Jadi
lebih baik kau tarik dahulu pancingmu, baru kulanjutkan ceritanya,”
kata James tersenyum lebar.

Setelah lima menit berusaha menarik ikan yang berat ke atas perahu,
yang kemudian jatuh kembali ke dalam air karena Lia yang merasa jijik
dengan licinnya kulit ikan tersebut, dan sepasang sandal melayang ke
arah muka James yang tertawa terbahak-bahak, James melanjutkan
ceritanya.

“Sayangnya, sang kepala suku tidak memperbolehkan prajurit tersebut
meminang putrinya dengan alasan prajurit itu belum membuktikan
keberaniannya sehingga tidak pantas meminang putrinya. Namun, keduanya
telah terlanjur jatuh cinta.”

“Setiap malam, mereka bertemu di pulau di tengah danau ini tanpa
diketahui anggota-anggota suku mereka. Hingga pada suatu malam di musim
dingin, datanglah seekor beruang putih besar yang sedang mencari
makanan. Sang putri terkejut melihat beruang tersebut dan terjatuh dari
dahan pohon tempat ia dan kekasihnya sedang duduk bermesraan, tepat di
atas beruang itu. Teriakannya memecah keheningan malam dan memanggil
anggota suku lainnya ke pulau tersebut.”

“Sang prajurit dengan segera melompat ke arah beruang putih tersebut
untuk mencoba melepaskan pujaan hatinya. Namun, beruang itu terlalu
besar dan dengan satu pukulan, ia terjerembab ke tanah. Ia melihat
pisaunya di kaki pohon di sampingnya, mengambilnya, dan berlari kembali
ke arah sang beruang.”

“Dengan sigap, ia berhasil menancapkan pisau tersebut ke perut
beruang. Di depan anggota suku yang telah berdatangan, beruang itu
roboh dan sang putri terselamatkan. Keesokan harinya, sang kepala suku
menikahkan mereka berdua. Dan sejak saat itu, para Indian menyebut
danau ini danau Beruang Putih untuk mengenang tantangan yang telah
dihadapi sang prajurit dengan berani”

“Kedua kekasih itu pada akhirnya hidup bahagia,” kata James menyelesaikan ceritanya.

“Wah, bagus sekali ceritanya,” kata Lia.
“Ya. Aku juga terkagum-kagum ketika menemukan cerita ini,” kata James.
Kemudian, keduanya kembali terdiam lagi. Tampaknya Lia puas dengan
kunjungan ke danau yang memiliki legendanya tersendiri ini.

“Lia,” kata James memecah keheningan,”menurutmu, kira-kira apa yang
prajurit dan putri kepala suku itu lakukan setiap kali mereka bertemu
di malam hari?” Ia menatap penuh ke wajah Lia. Begitupun Lia,
pandangannya bertemu dengan tatapan James. Mereka berdua masih terdiam.
Tiba-tiba, James mengangkat tangan kanannya dan meraih pipi Lia. Kali
ini tidak ada tanda penolakan. Wajah mereka berdua semakin dekat dan…

“Memancing?” kata Lia.

“Apa?” James yang terkejut memundurkan kembali wajahnya.

“Memancing. Mungkin mereka berdua memancing setiap malam? Suku Indian hidup dari berburu dan memancing bukan?” kata Lia.

Hening. Yang terdengar hanya suara deburan ombak dan kicau burung di langit.

“Hahahaahahahah!!!!” James tertawa terbahak-bahak. “kamu memang
lucu, Lia. Itulah mengapa aku menyukaimu.” Kemudian ia meraih wajah Lia
lagi dan mendorongnya ke dasar perahu.

“James! Jangan!” cegah Lia.

“Jangan? Kenapa jangan?” kata James mulai naik darah. “Aku sudah
membawamu ke tujuan-tujuan menarik di Minnesota. Dan kamu juga suka
dengan danau ini. Katamu aku boleh menciummu jika aku telah mengajakmu
ke tempat yang menarik.”

“Menciummu? Kupikir kau hanya ingin melihat anting yang malam itu kupakai,” kata Lia dengan wajah terkejut.

Keduanya kembali terdiam. Namun, James malah semakin naik darah. Melihat antingnya? Perempuan ini bercanda!! Untuk apa aku ingin melihat antingnya??? Pikir James.

Tepat ketika ia membuka mulutnya untuk meneriakkan pikirannya itu,
Lia terkikik. Tangannya menutupi mulutnya dan badannya bergetar-getar
menahan tawa. Pada akhirnya, ia tertawa lepas dan keras.

“Coba kau lihat wajahmu tadi. Benar-benar wajah terkejut yang
orisinalitas!” kata Lia. Dan ia tertawa beberapa lama lagi. “Aku hanya
bercanda James,” kata Lia setelah ia menenangkan dirinya.

“Kemarilah,” kata Lia. Dan mereka berdua saling berpelukan,
berciuman, dan bermesraan di dalam kapal motor itu di tengah danau yang
sepi.

Posted in Uncategorized | 1 Comment »

Theme Park Fever

Posted by weha on 28th June 2008

Yesterday, I went to Valley Fair in Shakopee, MN, with my friends. We have discount tickets from school. ^^ Took us half an hour more to drive down there, but it’s worth it.

We arrived there at around 12:30 or 1. Not so many people at that time. Maybe because it’s Friday and a lot of people still have to work. The longest line we encounter was around 20 minutes so we got a chance to ride on most of the roller coaster.

The first thing we rode on was the "Wild Thing" roller coaster. It’s the biggest one in Valley Fair. It’s kinda like Mamba in World of Fun, Kansas City, MO. In fact, while riding it, I can still remember the night I rode on Mamba. The flashes of support beams in the middle of dark at night, the wind rushing around my head, and the food lurching inside my stomach. I rode this 3 times for the whole day. Teehee!! ^^

The second one was Renegade, I think. This is the one that we have to wait for 20 minutes. It’s a wooden roller coaster. REALLY fast. Ride ends in 1.5 minutes. But THAT is the real roller coaster.

We also braved the Power Tower, 275 feet free fall drop, and the Extreme Swing. I didn’t get a chance to ride on High Roller, which is kinda like Halilintar in Dufan, Jakarta. But the best roller coaster of all was definitely Steel Venom. it’s a single-twist impulse coaster. Where the track is not a loop, but you’re launched to one direction up the tracks, and then fall down backwards and up again on the other end of track that’s twisted. Even though not quite as fast as Wild Thing, it’s not bad at all, considering this is the first time I ride on this type of roller coaster. The effect : I lost my voice today. ^^

But the water rides!! Gosh!!! There was Thunder Canyon, the equal but wetter of Arung Jeram in Dufan. Guaranteed to get your whole body wet!!! And the Hurricane Falls, people will laugh at Niagara-gara in Dufan. Higher drop and you even get wet!!! But the best water ride is the Big Wave. It’s similar to Hurricane Falls, but you ride on a big boat enough for 20 people. The drop caused, what, 10/15-meter-high wave? And after you’re done, you can run up on a bridge and wait for the next boat to drop down and brace the big wave yourself full-front.

After all those rides, we ended up in the water park where they have water slides and stuff.

All in all, I had fun!!! ^^ We ate mini donuts, corn dogs, churos, and cheese curds. Yes, junk food. But you haven’t been to theme park if you haven’t eaten the junk foods. LOL. A tip, make sure you bring at least 2 change of clothes!!!

Posted in Uncategorized | No Comments »

TANTANGAN untuk wehahaha

Posted by weha on 24th June 2008

The following is the Writing Challenge directed to me from miss worm. Just came out this morning at 8 am (Minnesota time). Taken directly from kontraksikata .

Lokalitas bukan sebuah genre seperti roman atau komedi. Saya lebih suka menilai lokalitas sebagai hal yang berhubungan dengan sifat lokal. Mari saya bantu teman-teman mengetahui definisi kata lokal berdasarkan KBBI:

lo·kal 1 n ruang yg luas: sekolah itu terdiri atas tujuh –; 2 a terjadi (berlaku, ada, dsb) di satu tempat, tidak merata; setempat: Jawatan Meteorologi dan Geofisika meramalkan bahwa besok akan turun hujan –; 3 a di suatu tempat (tt pembuatan, produksi, tumbuh, hidup, dsb); setempat: kualitas tekstil produksi — sudah tidak kalah dng produksi luar negeri;

Jika
kita menyangkutpautkan dengan prosa, maka prosa yang memiliki sifat
lokal berarti karya tulis bukan puisi yang memiliki korelasi kuat
dengan elemen ruang dan waktu. Hati-hati dengan dua
elemen sederhana itu. Lokalitas bukan semata-mata bicara tentang tempat
dan hari karena G30S/PKI tidak bisa terjadi di Nagasaki atau di New
York pada tahun 2008. Memasukkan elemen ruang dan waktu ke dalam sebuah
karya sama dengan membiarkan plot, karakter, dan detil-detil lainnya
dalam tulisanmu berkembang sesuai budaya yang hanya ada di tempat tersebut dan hanya terjadi pada masa tersebut.

Sebagian
besar penulis memilih ruang dan waktu yang dekat dengan kesehariannya
saat membuat prosa bermuatan lokal. Mereka percaya, ada banyak sekali
hal menarik di sekeliling mereka yang bisa digali untuk menghasilkan
sebuah karya besar. Beberapa penulis memilih ruang dan waktu yang tidak
dekat dengan keseharian mereka dan mereka harus membayar pilihan itu
dengan riset lebih.

Menulis sebuah prosa tipe ini, tentu saja, memiliki tantangan tersendiri. Seperti gurauan lokal mahasiswa yang tidak dipahami pelajar SMP, karya lokal akan memiliki keterbatasan pembacaan jika penulisnya tidak cukup terampil untuk membuat lokalitas tersebut menjadi global.

William Sayang,

Berbeda dengan penantang lainnya, saya tidak akan memberikan pancingan (teaser)
untukmu. Alasan pertama, saya ingin melihat kreativitas kamu; penulis
yang baik bisa menghasilkan karya cemerlang walau hanya dibekali sebuah
kata. Alasan kedua, saya malas. Nah, mari kita mulai.

Buatkan
saya sebuah cerita tentang seorang mahasiswa/i cerdas (tapi nakal)
Minnesota State College & University yang berupaya keras membujuk
seorang mahasiswa/i universitas sama dari Indonesia (yang taat
beragama) berhubungan seks.

Ruang dan Waktu: Minnesota saat ini, sebagai jackpot untukmu (karena Amri membatasi waktu penulisan)

Sudut Pandang: Orang ketiga dengan gaya bahasa lugas

Akhir Cerita: Bebas tapi tidak klise

Jumlah Kata: 1500 s.d. 2500

Rujukan:

Orang-orang
Bloomington (Budi Darma), Edward dan Tuhan (Milan Kundera), Adu Jotos
Tonto dan Lone Ranger di Surga (Sherman Alexie).

Lain-lain:

Pikat
saya dengan karakter-karakter ciptaanmu yang cerdas dan lucu (saya
sedang tidak berselera membaca kisah karakter-karakter bodoh yang
teraniaya).


Tolong jangan menulis sebuah karya bermuatan lokal yang membosankan.
Ini memang bukan wilayah Amri, tetapi saya ingin tertawa. Dan saya
ingin dikejutkan dengan ide-ide segar.

Minimalkan pemakaian kata serapan dan kata asing.

Gunakan teknik show not tell.

Tips:

Ingat!
Kisahmu hanya bisa terjadi di Minnesota dengan konflik yang saya
tuliskan di atas. Lakukan editing sebelum kamu mengirim tulisanmu
karena saya tidak menoleransi kesalahan EYD dan tata bahasa.

NB:

Saya terbuka untuk satu kali diskusi selama proses penulisan (jika diizinkan oleh Amri). (red: DIIZINKAN)

Time to get working!!!! I’ll be using Sherman Alexie’s book for reference. Wish me luck, everybody!!! ^^

Posted in Uncategorized | No Comments »

Writing Challenge…

Posted by weha on 23rd June 2008

…in less than 24 hours!!!! It’s scheduled to start at 2000 hours, 24 June, West Indonesian time. That means : 0800 hours , 24 June, St. Paul time. Right before third Modern Physics test!!! The Schrodinger equation test!!!! AAARRRGGGHHH!!!!!!

*^&%#$&UTG^FR%*Yrtt6&R5T^76r5

Posted in Uncategorized | No Comments »

8 days and counting…

Posted by weha on 16th June 2008

Well, 7 days in Indonesian time now. To what? To the Writing Challenge from www.kemudian.com. It is basically a challenge for users to write in a style out of their comfort zone, their challenge constructed by different users that are ‘qualified’ in kemudian.com way. For more detailed info, visit : kontraksikata . Sorry, it is only in Indonesian.

Well, for those who’s been faithfully reading every single one of my stories (if there’s any), I bet they will be able to guess exactly how I’m going to tell the story. My stories are always the same. It must concern something that’s currently a concern in real life. Like, high gas price in Lapar story and Kicauan Pohon dan Bisikan Burung for deforestation. Other stories are the kind of stories which needs contemplating. For more of my stories, please visit : wehahaha

Yes, all of them has pretty much the same style (except if you read the Orang Gila series). So, in this Writing Challenge, I will be challenged by a girl nicknamed ‘miss worm’. This miss worm is, like, the god of kemudian.com for me, the master, the guru, or whatever you want to call it. Less than 8 days into the challenge, I feel scared. Dead scared!!!!

Lets see… I started writing more than a year ago. Since back then, my writing style hasn’t changed much. At least, not the themes I choose to cover. I wonder… I really wonder what will miss worm’s challenge turn me into. For better or worse? I don’t want to claim myself to be writing for professional reasons. But still, I want to be better. It is the ‘kiasu’ part in me.

8 days and counting… I’m scared…

Posted in Uncategorized | No Comments »

A Houdini Shrimp

Posted by weha on 8th June 2008

Ok… This story is kinda spooky. At least, for me. Yesterday, I was waking up in a beautiful Saturday morning. Still kinda drowzy, I went to the bathroom. I hadn’t put on my glasses coz I was thinking about going back to sleep again, so my eye view was also kinda hazzy (still sleepy! LOL). So I went into the bathroom.

Suddenly, I heard a ‘click click’ noise and I looked down to the floor. There it was, near the cabinet  beside me, I saw something with pincers! I jumped! But then, after I took a better look at it, it was not a scorpion. Thank God!!! That almost gave me a heart attack.

Now the spooky part : it was not a scorpion, but a mini lobster-shrimp that Jersey, my roommate, lost a month ago. It disappeared from his fish tanks, puff, just like that. And those lobster-shrimps aren’t supposed to be able to stay alive out of water more than 2-3 hours!!!

So enlighten me. How does a lobster-shrimp live out of water for a month and still make it all the way to the bathroom, which is, what, 40-50 feet away? Even so, how does it even climb out of the fish tank??? What, it went on a vacation to Disney Land? LOL.

Posted in Uncategorized | 1 Comment »