Challenge Answered
Posted by weha on 29th June 2008
Well, if you’ve read the second from last post, I’ve finished the story and posted it in kemudian.com website. Miss worm hasn’t given her comment so I’m still dead anxious. I don’t think I really satisfied what she wants. Oh well, it’s a learning process, right? I will post the challengers’ comments when they’re all out. So, if you want to read it, here it is. Sorry that it’s only in Indonesia, but, enjoy.
Aku Ingin Melihat Minnesota
Matahari telah tinggi di langit.
Udara terasa panas dan lembab. Langit yang bersih dan rumput-rumput
hijau serta bunga-bunga berbagai warna yang bertebaran di sana-sini
menandakan musim panas telah kembali di Minnesota setelah musim dingin
yang dinginnya sudah tidak lucu lagi.
Di halaman belakang kampus, James sedang duduk di bawah pohon yang
rindang, menghindari sinar matahari yang terasa membakar. Sesekali ia
menguap dan melihat jam tangannya. Tetapi, selama ia duduk di bawah
pohon itu, pandangannya selalu tertuju kepada satu orang : Lia.
Lia sedang duduk di meja di dekatnya dengan sebuah buku. Raut
wajahnya yang serius tidak mengurangi kecantikan wajahnya. Sebaliknya,
menurut James, kecantikan wajahnya bertambah. Dengan rambut lembut yang
panjang dan proporsi tubuh yang ideal, ia dapat merebut perhatian pria
manapun.
James melihat jam tangannya sekali lagi. Sudah satu jam ia duduk di tempat itu. Ia bangkit berdiri dan berjalan ke arah Lia.
“Bagaimana tugasnya?” tanya James kepada Lia.
“Maaf?” tanya Lia. Halaman belakang saat itu sedikit ramai dan
berisik oleh orang-orang yang antusias menyambut musim panas dengan
berteriak-teriak dan bermain bola.
“Bagaimana tugasnya?” ulang James. Namun, alis Lia yang terangkat
menunjukkan raut wajahnya yang bingung siapa pria tampan yang ada di
depannya itu.
“Oh, aku James,” kata James. “Kamu Lia bukan? Mahasiswa pertukaran
pelajar itu? Aku sekelas denganmu. Kalkulus? Jam delapan pagi?”
“Oh, benar,” kata Lia. “Mengapa aku jarang melihatmu di kelas?”
“Aku bosan. Aku sudah mengerti semua bahan yang diajarkan oleh
dosen. Jadi lebih baik aku bolos saja. Bagaimana tugasnya?” tanya James
lagi.
“Tugas ini sangat sulit. Kalau kamu sudah mengerti, bagaimana kalau kamu ajari aku?” pinta Lia.
“Baik.”
**********
Biasanya, hari Minggu bagi James tidaklah membosankan seperti hari
itu. Teman-teman wanitanya semua menolak diajaknya jalan dengan
berbagai alasan. Padahal, James selalu dapat dengan mudah berduaan
dengan wanita manapun di hari Minggu.
Pikirannya teralih ke buku teks kalkulus di depannya dan ia teringat akan Lia. Mungkin Lia mau kuajak pergi, pikirnya. Lagipula, perempuan itu cukup cantik baginya. Dan ia pun menelepon Lia.
“Lia, bolehkah aku datang ke rumahmu?” tanya James di telepon.
“Hari ini?” kata Lia terkejut. “Maaf. Hari ini aku harus mengikuti acara kebaktian.”
“Bagaimana kalau nanti malam? Kamu akan kutraktir makan. Aku jamin kamu pasti belum pernah mencoba restoran yang kupilih.”
“Baiklah. Sampai nanti malam,” kata Lia mengakhiri pembicaraan.
James juga menutup telepon genggamnya. Ia tersenyum. Malam ini harus berhasil, pikirnya.
***********
“Terima kasih sudah mau mengajakku, James. Makanan tadi benar-benar lezat,” kata Lia.
“Kembali,” jawab James. Mereka sedang berada di dalam mobil James
dan menuju ke tempat tinggal Lia. “Bagaimana dengan kebaktianmu hari
ini?” tanya James.
“Baik. Beruntunglah ada Gereja di dekat tempatku tinggal,” jawab Lia. “Mulai sekarang aku harus rajin pergi ke Gereja kembali.”
Keduanya terus mengobrol hingga mereka sampai di depan gedung
apartemen Lia. James memarkir mobilnya dan mematikan mesin mobil.
Namun, mereka tidak juga keluar. James menoleh ke arah Lia.
“Lia, sudahkah kuberitahu? Anting dan kalungmu bagus sekali,” kata James.
“Oh betulkah? Terima kasih,” balas Lia.
“Kamu terlihat cantik malam ini,” lanjut James. Lia tampak tersipu
malu. Dalam cahaya remang-remang itu, wajahnya terlihat semakin cantik.
Keduanya terdiam sebentar.
Tiba-tiba, tangan kiri James menyentuh wajah Lia. Tangan kanannya
membelai rambut Lia yang lembut, kemudian turun ke lengannya. Ia dapat
merasakan jantungnya dan jantung Lia berdegup kencang.
“James, apa…”
“Sshhh…” kata James menenangkan Lia. Kemudian ia membawa wajah Lia
mendekat. Mata mereka saling bertatapan. Kedua wajah mereka saling
mendekat… mendekat…
“TIDAK!!!” teriak Lia. Ia mendorong tubuh James. “ Apa yang sedang kamu lakukan? Kamu sedang bermain-main dengan aku?”
“Lia, maaf… Aku…”
“Tidak,” kata Lia. Ia membuka pintu mobil dan beranjak keluar.
“Lia!” kata James ia meraih tangan Lia dan menariknya kembali ke
dalam mobil. Panik, Lia menampar wajah James dengan sekuat tenaga.
Pegangan James melonggar dan Lia berhasil melepaskan diri.
“Lia!!!” panggil James. Namun Lia tidak berhenti dan terus berjalan ke dalam gedung apartemennya.
Keesokan harinya, James datang sebelum kuliah dimulai, di luar dari
kebiasaannya yang selalu datang terlambat. Ia merasa kesal. Belum
pernah ada perempuan yang menolak ia cium. Belasan perempuan bahkan
telah berbuat lebih jauh dan tidur bersamanya. Namun perempuan yang
satu ini benar-benar kurang ajar. Tamparannya masih terasa sakit di
pipinya. Perempuan ini harus diberi pelajaran, pikirnya.
Lia tidak juga datang. Padahal James tahu bahwa Lia selalu datang
lebih awal untuk berdiskusi dengan mahasiswa-mahasiswa lainnya. Lima
menit setelah kelas dimulai, Lia tampak di ujung lorong, berjalan
cepat-cepat.
“Lia…” James memulai. Namun, Lia tidak mengindahkan James dan terus
saja berjalan masuk ke dalam ruang kelas. James terpaksa mengikutinya
ke dalam kelas. Sayangnya, di ruang kuliah yang besar itu, Lia sengaja
mengambil tempat duduk di antara dua orang lainnya daripada tempat lain
yang lebih kosong sehingga James terpaksa mengambil tempat di belakang
ruangan yang cenderung lebih kosong.
Setelah kelas selesai, James segera lari ke pintu untuk mencegat Lia.
“Lia…” kata James.
“Tidak, James,” kata Lia.
“Tapi…”
“James, kamu baik dan tampan. Tetapi itu semua tidak cukup,” kata Lia.
“Apa maksudmu?” tanya James.
“Baik. Kalau kamu serius, kamu harus membawaku melihat-lihat lebih
banyak hal-hal menarik di Minnesota ini terlebih dahulu. Baru nanti
kuizinkan,” kata Lia.
“Hal-hal baru?”, ulang James. “Banyak sekali maumu. Baiklah.
Bersiap-siaplah mulai besok.” Kemudian James berbalik pergi. Jika Lia
memintanya berkeliling Minnesota dan menyenangkannya, ia adalah ahlinya.
********
Ia adalah ahlinya? James tidak yakin lagi bahwa ia adalah ahli
menyenangkan perempuan. Setidaknya, tidak untuk Lia. Hari Senin setelah
kelas Lia selesai, ia mengajaknya ke tepi sungai Mississippi. Dari
cerita Lia, ia tidak yakin Lia dapat melihat pemandangan matahari
terbenam di tepi pantai yang begitu indah.
Sayangnya, di tempat andalan para pria itu, rayuan-rayuan James
tidak mempan terhadap Lia. “Apa bagusnya? Tempat seperti ini bisa saya
lihat di gambar-gambar di internet,” katanya.
Hari Selasa malam, gemerlapnya daerah Uptown yang penuh
dengan bar-bar dan tempat makan pinggir jalan juga ditolak
mentah-mentah oleh Lia. “Aku tidak suka orang mabuk. Apalagi banyak
perokok di sini. Bau!” umpatnya.
Hari Rabu dan Kamis ia menolak pergi karena ada tugas kuliah. Hari
Jumat ia tertidur ketika sedang menonton pertunjukan drama terkenal
oleh grup Shakespeare and Company. Akhirnya, hari Sabtu dan Minggu ia menolak pergi lagi.
“Jadi sebenarnya apa yang kamu suka?” tanya James kehabisan kesabaran pada hari Senin setelahnya.
“Kamu tidak memperlihatkanku sesuatu yang spesial. Sungai dan pusat
makanan dan bar adalah sesuatu yang biasa. Aku juga dapat menonton
drama di mana saja, kapan saja,” kata Lia. “Aku ingin melihat
Minnesota, James. Minnesota yang sebenarnya.”
Seketika itu juga, James sadar. Tentu saja Lia tidak menyukai
matahari terbenam di tepi sungai karena matahari terbenam dapat dilihat
setiap hari. Tentu saja Lia tidak menyukai daerah bar dan tempat
makanan karena ia tidak suka minum-minum dan perempuan harus menjaga
pola makannya. Tentu saja ia tidak menyukai drama karena… Yah, sudah
dapat ditebak. Yang ia inginkan adalah sesuatu yang hanya terdapat di
Minnesota seperti yang Windry inginkan.
“Baiklah. Besok aku akan membawamu ke tempat yang sama sekali berbeda,” kata James. “Bersiap-siaplah.”
Keesokan harinya, James memaksa Lia untuk membolos dari kuliah untuk
pergi ke tempat spesial yang dijanjikannya. Mereka akan pergi memancing
di danau White Bear, atau danau Beruang Putih.
“Kau yakin tidak apa-apa?” kata Lia.
“Tentu saja. Katamu kau belum pernah memancing di… Di mana negara asalmu? Malaysia?” tanya James.
“Indonesia…”
“Ya, India, apapun itu. Pokoknya, kamu harus mencobanya musim panas
ini. Ini adalah kegiatan outdoor yang paling populer di Minnesota,”
kata James.
“Tapi kita kan ada kelas sebentar lagi,” kata Lia masih kurang yakin.
“Aku tidak peduli. Lagipula kita hanya akan mengulang pelajaran kemarin,” kata James lagi.
James berjalan ke atas dermaga di tepi danau menuju sebuah perahu motor. “Perahumu?” tanya Lia.
“Bukan.”
“Kita akan mencuri perahu?”
“Bukan mencuri. Hanya meminjam saja kok,” lanjut James enteng.
“Tapi itu adalah dosa…”
“Sudahlah. Pemilik perahu ini tidak akan tahu. Ini hari Selasa.
Mereka pasti sedang bekerja. Lagipula mereka juga tidak pernah memakai
perahu ini. Orang-orang membeli perahu hanya karena potongan harganya
terlihat menggiurkan. Mereka bahkan tidak memikirkan terlebih dahulu di
mana mereka akan menaruhnya, atau apakah mereka bahkan akan memakainya.
Tetapi, mereka tetap saja membelinya,” jelas James.
“Tapi kita tidak punya kunci mesin…” Namun, sebelum Lia selesai
bicara, james mengeluarkan pisau lipatnya dan membuka kotak mesin di
bawah setir.
“Hei, bukan kebetulan nilaiku selalu A di kelas mekanika mesin,”
kata James. Tak lama, mesin perahu motor tersebut berhasil dinyalakan
dan mereka segera berangkat ke tengah danau.
Belum dua puluh menit mereka memancing, Lia sudah gelisah. Umpan
pancingnya berulangkali ditarik dan dilemparkan kembali. Ia berulang
kali menjulurkan kepalanya ke atas air untuk memastikan keberadaan
ikan-ikan. Bersamaan dengan itu semua, Telinga James penuh dengan
“Mengapa ikannya tidak tertangkap juga James?”, atau “Kau yakin di
danau ini ada ikan?” dan “Bosan, bosan, bosaaaan!!!!”
“Lia, jangan terlalu banyak bergerak dan bicara. Nanti ikan-ikannya pada takut semua,” kata James mencoba menenangkannya.
“Tetapi aku bosan. Danau ini tidak lebih menarik dari tempat-tempat lain yang kamu perlihatkan,” kata Lia.
“Baiklah. Kalau begitu, bagaimana kuceritakan sebuah cerita? Cerita
ini yang akan membuat kunjungan ke danau ini menjadi berbeda dari
kunjungan-kunjungan lainnya,” kata James menawarkan.
“Hmm… Boleh saja. Cerita apa?”
“Ehem, ehem,” James bersiap-siap. “Aku akan menceritakan kisah
mengapa danau ini disebut danau Beruang Putih. Pada zaman dahulu,
daerah ini dikuasai oleh suku-suku Indian. Alkisah terdapat seorang
prajurit Indian yang jatuh cinta kepada putri kepala sukunya. Wanita
itu pun juga menyukainya.”
“Sayangnya…” kata James berhenti sejenak.
“Sayangnya kenapa?” tanya Lia.
“Sayangnya ada ikan yang baru saja memakan umpanmu barusan. Jadi
lebih baik kau tarik dahulu pancingmu, baru kulanjutkan ceritanya,”
kata James tersenyum lebar.
Setelah lima menit berusaha menarik ikan yang berat ke atas perahu,
yang kemudian jatuh kembali ke dalam air karena Lia yang merasa jijik
dengan licinnya kulit ikan tersebut, dan sepasang sandal melayang ke
arah muka James yang tertawa terbahak-bahak, James melanjutkan
ceritanya.
“Sayangnya, sang kepala suku tidak memperbolehkan prajurit tersebut
meminang putrinya dengan alasan prajurit itu belum membuktikan
keberaniannya sehingga tidak pantas meminang putrinya. Namun, keduanya
telah terlanjur jatuh cinta.”
“Setiap malam, mereka bertemu di pulau di tengah danau ini tanpa
diketahui anggota-anggota suku mereka. Hingga pada suatu malam di musim
dingin, datanglah seekor beruang putih besar yang sedang mencari
makanan. Sang putri terkejut melihat beruang tersebut dan terjatuh dari
dahan pohon tempat ia dan kekasihnya sedang duduk bermesraan, tepat di
atas beruang itu. Teriakannya memecah keheningan malam dan memanggil
anggota suku lainnya ke pulau tersebut.”
“Sang prajurit dengan segera melompat ke arah beruang putih tersebut
untuk mencoba melepaskan pujaan hatinya. Namun, beruang itu terlalu
besar dan dengan satu pukulan, ia terjerembab ke tanah. Ia melihat
pisaunya di kaki pohon di sampingnya, mengambilnya, dan berlari kembali
ke arah sang beruang.”
“Dengan sigap, ia berhasil menancapkan pisau tersebut ke perut
beruang. Di depan anggota suku yang telah berdatangan, beruang itu
roboh dan sang putri terselamatkan. Keesokan harinya, sang kepala suku
menikahkan mereka berdua. Dan sejak saat itu, para Indian menyebut
danau ini danau Beruang Putih untuk mengenang tantangan yang telah
dihadapi sang prajurit dengan berani”
“Kedua kekasih itu pada akhirnya hidup bahagia,” kata James menyelesaikan ceritanya.
“Wah, bagus sekali ceritanya,” kata Lia.
“Ya. Aku juga terkagum-kagum ketika menemukan cerita ini,” kata James.
Kemudian, keduanya kembali terdiam lagi. Tampaknya Lia puas dengan
kunjungan ke danau yang memiliki legendanya tersendiri ini.
“Lia,” kata James memecah keheningan,”menurutmu, kira-kira apa yang
prajurit dan putri kepala suku itu lakukan setiap kali mereka bertemu
di malam hari?” Ia menatap penuh ke wajah Lia. Begitupun Lia,
pandangannya bertemu dengan tatapan James. Mereka berdua masih terdiam.
Tiba-tiba, James mengangkat tangan kanannya dan meraih pipi Lia. Kali
ini tidak ada tanda penolakan. Wajah mereka berdua semakin dekat dan…
“Memancing?” kata Lia.
“Apa?” James yang terkejut memundurkan kembali wajahnya.
“Memancing. Mungkin mereka berdua memancing setiap malam? Suku Indian hidup dari berburu dan memancing bukan?” kata Lia.
Hening. Yang terdengar hanya suara deburan ombak dan kicau burung di langit.
“Hahahaahahahah!!!!” James tertawa terbahak-bahak. “kamu memang
lucu, Lia. Itulah mengapa aku menyukaimu.” Kemudian ia meraih wajah Lia
lagi dan mendorongnya ke dasar perahu.
“James! Jangan!” cegah Lia.
“Jangan? Kenapa jangan?” kata James mulai naik darah. “Aku sudah
membawamu ke tujuan-tujuan menarik di Minnesota. Dan kamu juga suka
dengan danau ini. Katamu aku boleh menciummu jika aku telah mengajakmu
ke tempat yang menarik.”
“Menciummu? Kupikir kau hanya ingin melihat anting yang malam itu kupakai,” kata Lia dengan wajah terkejut.
Keduanya kembali terdiam. Namun, James malah semakin naik darah. Melihat antingnya? Perempuan ini bercanda!! Untuk apa aku ingin melihat antingnya??? Pikir James.
Tepat ketika ia membuka mulutnya untuk meneriakkan pikirannya itu,
Lia terkikik. Tangannya menutupi mulutnya dan badannya bergetar-getar
menahan tawa. Pada akhirnya, ia tertawa lepas dan keras.
“Coba kau lihat wajahmu tadi. Benar-benar wajah terkejut yang
orisinalitas!” kata Lia. Dan ia tertawa beberapa lama lagi. “Aku hanya
bercanda James,” kata Lia setelah ia menenangkan dirinya.
“Kemarilah,” kata Lia. Dan mereka berdua saling berpelukan,
berciuman, dan bermesraan di dalam kapal motor itu di tengah danau yang
sepi.
Posted in Uncategorized | 1 Comment »