Oh well… First, I’ll show the comments from users other thatn the challenger.
|
- Aku Ingin
Melihat Minnesota
ok… cerita ini khas orang luar memang… tapi benar
komen sebelumnya heheh.. kurang eksplor konlflik dan alurnya jadi gampang
ditebak.
dikirim Arra 16 hours 54 sec yang lalu
|
|
well, tepuk tangan dulu buat weha :), waktu singkat bisa juga menjadikan
theme seperti ini menjadi bangunan cerita, saya kira musakan dari teman teman
yang lain sudah cukup banyak..dan sepertinya memang begitu..(apa ini
maksudnya? heheh)…
okey memang saya pribadi sih berpendapat bangunan cerita udah komplete,
hanya itu cobalah lebih variatif dalam penggunaan kata, deskripsi setting,
dan kuatkan karakter lagi..kasih ajah sesuatu yang unik..yang inherent hanya
pada lia misalnya..sehingga ia bisa jadi begitu..karena biasanya tokoh tokoh
seperti itu yang enak di baca…
ya tapi cerita ini..happy ending..and I love it..meski rada klise..*halah
protes lagi…
okelah, selamat weha
gruß
dikirim Tedjo 9 min 25 sec yang lalu
|
|
villam says,
Wehahaha, hmm… terus terang aku agak terkejut dengan temanya. ‘Mengajak
tidur ’? dan akhirnya ‘berhasil’? Duh… Oke deh… mungkin ini ciri lokalitas
dalam ceritamu ini (terus terang aku lebih nyaman dengan ‘lokalitas’ di ceritamu
yang lain tentang kehidupan imigran pengeruk salju itu. Aku lebih suka
pesannya).
Mungkin, bisa saja sih cerita ini menjadi lebih lembut dan nyaman, jika
saja proses ‘merayu’nya tidak terlalu gampang dan polos. Masukkan ‘cinta’
dalam cerita. Tapi, yeah… mungkin memang bukan itu tema yang penting di sini.
Atau… come on… kamu bisa membuat james menjadi playboy yang lebih canggih
daripada ini. Hehehe…
Dua hal lainnya saja yang ingin kukomentari. Pertama soal sudut pandang,
ada baiknya konsisten di sudut pandang James. Di beberapa tempat kamu banyak
terpeleset masuk ke sudut pandang Lia, seperti saat dia bercerita tentang
windry (lha? Kok kamu sendiri malah jadi keluar jalur dan melukai keseriusan
ceritamu?). Kalau sudut pandang tetap di James, cerita bisa terasa lebih
jujur.
Yang kedua, soal karakter Lia. Terus terang, ‘perubahan’nya mengejutkan.
Ah, enggak kayaknya, Itu bukan perubahan, aku merasa kamu memang sengaja
menyembunyikan itu dari pembaca. Padahal kamu sempat masuk ke sudut pandang
Lia… lalu kenapa disembunyikan?
dikirim Villam 8 hours 29 min yang
lalu
|
|
eh…
… ada Windry nyelip di tengah-tengah cerita^^
saya sependapat dengan seluruh pendapat noir :). Pun kisah ini tidak akan
mengalami perubahan apabila setting
Minnesota
diganti.
Saya tahu kisahnya bukan terjadi di
Indonesia
, tapi tetap saja
dialogmu masih terasa kaku.
Dan kenapa dimulai dengan ‘matahari’? :p
dikirim fortherose 10 hours 13 min
yang lalu
|
|
Weits
OOT:
Hahahaha…Windry kebawa-bawa nih dalam cerita :p Hati-hati dalam editingnya,
Bung William ^^
First of all, salut kepada penulis yang berhasil menyelesaikan tantangan
dengan waktu terbatas dan tema yang ditentukan. Keep writing!
Tantangan(Saya ikut nimbrung tantangan ini ah):
1. Kesesuaian dengan tema tantangan.
Saya tidak melihat konflik pertentangan antara si tokoh perempuan yang
menolak berhubungan seks. Taat beragama di sini hanya digambarkan dalam
kebaktian di gereja, tapi tidak pada perilaku dan sikap. Penolakannya pun
terkesan tidak beralasan, karena pada akhirnya si tokoh mendapatkan apa yang
diinginkannya dengan klise. Di sini penulis masih ‘tell’, belum ’show’.
2. Lokalitas. Setting menjadi lokalitas utama di sini. Tapi berhenti
sampai di situ saja. Tidak terlihat kekhasan
Minnesota
di sini, yang terbaurkan dalam
cerita.
3. Humor. Cukup lucu dan konyol, cuma masih dalam standar biasa. Walaupun
saya suka dengan joke Lia di akhir cerita^^
4. Alur. Penulis kurang berani mempermainkan alur. Awal cerita yang
terkesan lambat, dibawa dengan terburu-buru pada pertengahan, dan ditutup
dengan ending klise. Coba diberi penekanan lagi pada emosi si tokoh, bukan
pemaparan semata.
Jika saja ini bukan cerpen tantangan, pasti saya akan menilai tinggi. Hana
saja berhubung ini tantangan, jadi harus saya sesuaikan lagi dengan tantangan
yang diminta.
Yang lainnya saya serahkan kepada penantang asli saja hehehehe…
dikirim noir 11 hours 8 min yang lalu
|
|
*lho.. kok ada ‘Windry’ di ceritanya, sampe kaget.. ha ha ha…
*salah satu saat terlihat ‘lokalitas’ yang menurutku paling baik adalah
saat James mengenalkan diri. Terlihat
gaya
bahasa yang tidak biasa.
*good luck yaa!!
dikirim cassle 1 hari 11 hours yang
lalu
|
|
dikirim deft_4 1 hari 12 hours yang
lalu
|
|
Asyik
Cerita ini lumayan asyik untuk dinikmati. Namun barangkali ada bagian yang
terasa begitu panjang (di tengah cerita), walaupun demikian penulis mampu
membawa pembaca untuk menuntaskan cerita, justru inti dari cerita ada di
bagian akhir.
Toh, akhirnya Lia mau juga bermesraan dengan James, walaupun Lia sempat
menampar pipi James.
Cerita yang asyik.
dikirim Bamby Cahyadi 1 hari 12
hours yang lalu
|
Last, lets see what miss worm has to say. ^^
[Lokalitas]
Minnesota
(atau detilnya Minnesota State College & University) seharusnya menjadi
Jackpot bagi penulis (penulis tinggal di
Minnesota
).
Saya bayangkan, cerpen ini akan menjadi menarik jika penulis mau menggali lebih
jauh detil-detil yang dekat dengan kesehariannya di
kota
tersebut, lalu pembaca akan melihat lokalitas yang ditawarkan dan berkata,
"Oooh, seperti itu tho
Minnesota
."
Mereka jadi tahu seperti apa
kota
/ kampus itu,
bagaimana kehidupan mahasiswi
Indonesia
di
sana
,
bagaimana kehidupan seksual mahasiswa MSCU, sebebas apa mereka berhubungan seks
dan sesering apa, dan lain-lain, dan lain-lain.
Akan lebih menarik lagi jika penulis melibatkan ‘pola pikir setempat’ dalam
cerpennya dan (menurut saya) inilah sesungguhnya yang membuat sebuah karya
tulis menjadi ‘lokal’. Seperti apa mahasiswa MSCU berpikir? Seperti apa mereka
melihat mahasiswi
Indonesia
?
Bagaimana mereka memandang seks? Apa pendapat mereka terhadap seks? dan
lain-lain, sehingga cerita bisa kuat dan pembaca ‘percaya’ bahwa kisah itu
terjadi di
Minnesota
.
Elemen ‘waktu’ tampaknya terlupakan oleh penulis. Misal, Amerika sedang
sibuk dengan Obama maka penulis bisa saja memasukkan gambaran James sibuk
ngomongin Obama, Lia tidak peduli (karena dia tidak punya hak pilih). Atau Lia
justru sok menghubung-hubungkan Obama dengan
Indonesia
(seperti kebanyakan warga
Indonesia
lainnya), lalu James (yang sebenarnya pengikut Republik) terpaksa membela Obama
untuk menarik hati Lia. Atau apalah.
[Pengembangan Cerita] Saya setuju dengan Noir. Variabel
‘mahasiswi
Indonesia
taat
agama’ yang dibentrokkan dengan ‘mahasiswa’
Minnesota
belum digambarkan dengan lengkap.
Penulis perlu memasukkan adalah ‘motif’ dari setiap aksi tokoh-tokohnya,
sehingga logika cerita menjadi kuat, dan kejadian demi kejadian menjadi
beralasan. Alasan James menyukai Lia, misalnya. Kenapa dia sampai ngotot
mengajak Lia seks walau ditolak berkali-kali. Alasan Lia menolak James. Alasan
apa yang kemudian membuat Lia memberi James ‘angin’ dengan kata-kata,
"Perlihatkan dulu
Minnesota
padaku." Akan lebih masuk di akal kalau itu hanya permainan Lia dan tujua
Lia tetap satu: James tidak akan pernah ia izinkan menyentuhnya.
[Karakterisasi] Saya sulit melihat James dan Lia sebagai
karakter yang utuh. Saya lebih sulit lagi melihat James sebagai mahasiswa yang
cerdas. Ya, dia memang menyebutkan tentang nilai A, bolos kuliah karena paham
dan lain-lain, tetapi dia justru membujuk Lia melakukan seks dengan cara
kacangan. Sementara Lia tidak tergambar ‘
Indonesia
‘ atau ‘taat agama’.
[Dialog dan Deskripsi] Saat Lia menolak untuk berhubungan
seks, Lia cuma bilang, "Tidak, James," lalu James bilang, "Tapi,
Lia," kemudian Lia bilang lagi, "Tidak," lalu James bilang juga,
"Lia!" dan seterusnya. Apa yang ditawarkan dari dialog-dialog semacam
ini? Sementara Deksripsi yang ditawarkan juga masih bisa dikembangkan lagi.
Alangkah asyiknya kalau penulis melibatkan
lima
indra dalam deskripsi-deskripsi. Lebih
asyik lagi jika ditambahkan emosi.
[
Gaya
Bahasa]
Lugas, ya. Klise, juga ya. Silakan hitung ada berapa cerpen di
dunia yang diawali dengan kata ‘matahari’, diikuti dengan langit, rumput hijau,
bunga warna-warni, dst. Selain itu, pengulangan kata yang sama dalam satu
paragraf juga cukup mengganggu (di paragraf ketiga dan tiga ‘wajah’ atau
"musim dingin yang dinginnya…" di paragraf pertama). Sudah ada
Tesaurus
Indonesia
maka manfaatkanlah (memang, belum ada Tesaurus Indonesia Dalam Jaringan).
[Tata Bahasa dan EYD] Beberapa kalimat masih bisa diubah
menjadi lebih efektif lagi seperti "Lia sedang duduk di meja di dekatnya
dengan sebuah buku." Selain itu, saya masih menemukan beberapa kesalahan
ketik.
Demikian pembacaan saya seputar ‘Aku Ingin Melihat
Minnesota
‘. Semoga racauan sok tahu saya
bisa membuat penulis menghasilkan karya yang di kemudian hari bisa membuat
banyak pembaca berkomentar, "Wow!".
And so there goes. Back to the computer and start writing even more!!! ^^